Takdir Kedua


Bukannya tak menghargai takdir pertama yang Tuhan berikan. Hanya saja, aku merasa tersiksa bersama mereka. Akankah Tuhan memberikan takdir kedua yang aku hendaki?

Aku terlahir di keluarga yang menjunjung tinggi harga diri laki laki. Ibuku bilang, laki-laki tak bisa diatur, jadi sebagai seorang wanita harus terus mengalah. Laki-laki tak ingin mendengarkan wanita.
Tak bisakah ayahku mengalokasikan dana yang dia hasilkan untuk membantu kami para perempuan untuk membereskan seisi rumah? Apakah ini salah ibu, melahirkan 3 anak laki laki dan satu anak perempuan. Ibu hanya melayani ayah saja. Sedangkan aku harus membereksan apa yang kakak kakakku letakkan di rumah. Menaruh sorban saja mereka tak pada tempatnya. Tak satupun dari mereka yang melihat keringatku saat menyapu makanan yang selalu mereka tumbahkan di depan tv.

Tapi ibu lebih tersiksa bersama laki laki teregois di rumah ini. Dia yang tak pernah melihat ataupun mencium keringat ibu karena terlalu acuh demi memperjuangkan mimpi yang bahkan tak pernah benar benar dia raih.

Aku rasa kecerdasanku lumayan. Tapi apakah menyalahi aturan, jika aku diperbolehkan belajar giat seperti mereka yang bahkan tak benar benar membaca buku saat sedang memeganggnya?

Padahal, aku sangat bisa membuktikan kalau memang lebih cerdas. Tapi, waktu sudah terbuang untuk mencuci piring, menyapu, menggosok bahkan mencuci pakaian mereka. Perasaan yang menambah membuang semuanya, sisa waktu yang ada hanya ku pergunakan untuk kesal serta menyesal.
...

Sampai suatu ketika, seorang lelaki datang dan membawa beberapa bunga yang bahkan aku pun tau itu dari halaman rumah. Dia membantu menjemur pakaian sambil menceritakan banyak hal tentang dunia luar. Dia terus menggoda sampai membuat aku setuju kunjungan keduanya di hari esok.

Sekarang, menjemur pakaian menjadi kegiatan yang aku suka. Dia datang dengan roti dalam keranjang. Kali ini aku hanya makan roti dan dia menjemur pakaian. Tau betul apa yang membuat aku mengizinkannya masuk.

Begitupun keesokan harinya, dia berjanji untuk melukis aku yang sedang menjemur, walaupun kecewa karena tak akan dibantu lagi. Namun, setelah melihat hasil lukisannya, tak bisa untuk tidak senang, sehingga memperbolehkan dia datang lagi.

Tapi setelah 3 hari, ternyata ibu melihat apa yang terjadi di halaman jemuran. Dia memintaku untuk tidak mendekati lelaki manapun sebelum kakak-kakaku menikah terlebih dahulu.

Aku tak pernah bisa bersuara, tapi bukankah tak adil? Aku ingin pergi dari rumah, namun pembuktianku tak kunjung terlaksana. Harapan yang tersisa untuk bisa keluar dari rumah ialah menikahi seseorang. Tak butuh berduit banyak seperti ayah, hanya membanguin rumah besar agar dirapihkan oleh istri dan putrinya. Aku tak butuh orang orang bijak dan cerdas seperti kakak-kakak yang bahkan tak bisa meletakkan sorban pada tempatnya. Aku hanya ingin seorang laki-laki yang bersedia membawaku pergi dari rumah ini.

Di hari ke-empat, ibu yang menjemur pakaian. Dia memintaku untuk membereskan rumah saja, karena ibu tau dia pasti datang. Teganya mencegah aku menikmati kebahagiaan walau hanya kedikit saja dari seorang laki laki.

Setelah hari itu berlalu, hari kelima dan seterusnya, dia tak pernah datang lagi. Hari-hariku bahkan lebih buruk karena telah merasakan keindahan kedatangan seorang penghibur, sedang Tuhan mengambil nikmat itu, kesepian semakin terasa saat aku tau rasanya ditemani dan dibantu.
Setelah tujuh hari aku berpura pura baik baik saja di hadapan ibu yang menjadi penyebab ketidakhadiran lelaki itu. Kemudian meminta untuk tugas belanja ke pasar diserahkan saja padaku, dengan alasan untuk belajar memasak segera.
...

Pagi di hari libur, untuk pertama kali aku pergi ke pasar ditemani kakak yang paling bungsu. Membawa harapan agar bertemu dengan pria itu. Mataku terbuka lebar saat melihatnya di balik tumpukan apel. Dia memperdagangkan apel yang segar, dengan wajah yang tak kalah merona lagi indah dari apel-apel yang dijual. Aku meminta kakak jangan khawatir karena akan belanja apel dan dia boleh pergi melihat pertunjukan pasar di sebrang sana.

Kami bertatapan seperti melepas rindu satu sama lain. Dia tak memberi alasan saat ditanya mengapa tidak datang. Tapi itu bukan masalah lagi karena aku yang akan menemui nya terus di pasar.

Setelah pulang, kebahagiaan menyertaiku. ibu pun ikut senang karena anaknya kembali dengan ceria tak seperti biasa. Mulai sekarang tugas belanja diserahkan kepadaku, bahkan tanpa ditemani kakak bungsu. Walaupun beban kerja akan bertambah lebih banyak, tapi aku rela untuk melakukannya.

Setiap hari aku tergesa gesa membeli belanjaan sesuai daftar ibu dan meghabiskan waktu 1-2 jam ikut pria itu berjualan apel di pasar. Disana, aku selalu disuguhkan makanan pasar yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Tapi setelah 3 hari berlangusng. Ibu mulai curiga, dia mengikuti dan melihat kami berdagang apel. Ibu yang murka, membawa ku dengan paksa pulang ke rumah. Sedang aku menolak tak ingin berpisah lagi dengan pria itu.

Tapi ibu tetap yang paling bisa memegang ragaku. Aku tak boleh keluar rumah selama beberapa hari. Seorang gadis dirundung kesediahan karena tak bisa melihat dunia luar untuk menemui lelakinya.

Sampai di hari ketujuh, seorang saudagar kaya datang ke rumah. Ayah mengetahui berita itu sehari sebelumnya.  Kakak tertua yang sedang menempuh pendidikan di luar kota sampai diminta datang untuk menyambut kedatangan saudagar kaya ini. Bahkan, tante yang bertetangga dengan kami ikutan sibuk membantu ibu dan aku membuat banyak makanan untuk menyambutnya.

Kemudian dia datang. Para orang tua menambut di depan. Aku bersama sepupu perempuan lainnya menunggu di dapur untuk menyiapkan makanan. Sampai saat ibu datang dan memanggilku untuk keluar. Jika ada tamu lelaki, anak perempuan tak boleh mengantarkan makanan, biasanya kami hanya menyiapkan. Aku sangat kebingungan dengan sikap ibu.

Aku berjalan keluar dan terkejut melihat rona pipi itu. Rona pipi yang ku kira tak akan pernah dilihat lagi. Tapi hari ini dengan jelas terlihat dalam balutan pakaian indah yang dia kenakan. Saudagar kaya itu pun berdiri dan tersenyum kepadaku. Ibu bahkan lupa, kalau saudagar itu adalah pria yang selalu dia usir. Ibu bersujud meminta maaf atas perbuatannya selama ini. Pria itu mendatangi ibu dan menyuruhnya untuk bangun. kemudian mendatangiku, yang berdiri tak berkata kata.

Pria : menikahlah, aku akan membawamu kemanapun aku pergi, jadi kamu tak perlu gusar lagi.
Aku : benarkah?
Pria : tentu saja, bukankah itu yang dilakukan seseorang yang menjadi suami ?
Aku : tapi seorang suami akan menjadikan istrinya budak. Akan kah aku akan menjadi budak lagi setelah ini?
Pria : aku kan memperkerjakan banyak pembantu agar tanganmu yang halus tak keriput terkena air cucian kotor.
Aku menangis haru mendengar semua janji yang dia tawarkan. Kami pun menikah atas restu semua keluarga besarku. Pesta dilakukan 7 hari 7 malam. Saudagar ini begitu kaya raya.
...

Malam itu dia bercerita kalau selalu melihatku menjemur pakaian, mereka baru tiba di kota itu untuk berjualan. Rumah kami hanya dipisahkan oleh 5 bangunan. Dibantu oleh kenalannya sendiri yang merupakan tetangga sebelah rumahku. Dia dapat memasuki halaman jemuran serta tau saat aku ke pasar. Dia bahkan berpura pura menjadi pegawainya sendiri yang menjual apel.


Komentar