Mengapa mereka semua terobsesi
untuk masuk menjadi pegawai di Gedung Besar?
Awalnya aku menyukai Gedung Besar
itu, warna tembok depannya putih dan bagian belakang biru. Kalau kita bekerja
disana, akan sejahtera hingga tua. Tapi hanya melakukan satu hal. Bahkan antara
kamu dan temanmu melakukan pekerjaan yang sama. Bukankah itu memuakkan?
Memakai baju senada yang
disediakan dari Gedung Besar. Tapi ada ketidakadilan disana. Kerja atau tidak,
gajih mu dengan si pemalas sama besarnya. Akan banyak orang yang selalu tertawa
sedangkan kamu menderita karena tugas. Bukankah itu merugikan? Tapi mengapa si
rajin masih saja bertahan di Gedung Besar itu?
Apa dia takut tak sejahtera
hingga tua? apa dia tak punya keahlian lain selain melakukan pekerjaan yang selalu
dilakukannya disana? Sayang sungguh sayang, bukan karena mereka yang tidak mau.
Hanya saja, kota ini tak memiliki pekerjaan lain selain pegawai Gedung Besar. Hanya
dari situ kami akan mendapatkan uang.
...
Orang yang pernah melancong dan
kembali sebagai kakek tua kaya sering bercerita kepada kami. Bahwa dia tak
pernah melakukan sekecil apapun pekerjaan di Gedung Besar.
Mengapa? Dia berkata, Karena gedung
mereka saja yang besar, tapi pekerjaan yang dilakukan terlalu kecil untuk orang
besar.
Kakek itu sangat pemurah kepada
anak kecil tapi dibenci orang dewasa di kota ini. Mengapa? Karena dianggap
sombong. Kakek selalu menyalahkan pegawai Gedung Besar. Padahal semua orang dewasa bekerja dan mendapatkan
uang dari Gedung Besar.
Dia sering berpesan kepada kami, anak
anak kecil yang meminta cailan, bahwa kalau kamu sudah dewasa kami dapat
memilih. Ingin tinggal disini dan menjadi orang dewasa yang melakukan pekerjaan
membosankan. Atau pergi ke belahan dunia lain dengan pekerjaan seru dan upah banyak
seperti kakek.
Para orang tua menyuruh anak-anak
mereka untuk berhenti mendekati kakek. Karena dianggap memiliki pengaruh buruk atas
hasutannya. Tak disangka hidup seorang diri di panti asuhan membuat sebuah
keuntungan bagiku. Aku tak benar benar dilarang oleh pegawai panti. Lebih
tepatnya, pegawai Gedung Besar yang mengelola panti. Karena semua fasilitas
umum dan sosial dikelola langsung oleh Gedung Besar. Mereka mengutus pekerja yang
kaku tanpa kasih sayang untuk menjaga anak-anak yang tidak memliki orang tua.
Mereka tak khawatir masa depan
anak yang diurus sebatas pekerjaan ini. Asalkan aku membantu menulis tugas
kepegawaian mereka. Hanya menyalin saja, sangat membosankan.
...
Setiap hari aku datangi kakek
untuk belajar banyak hal. Sebagai bekal kemampuan yang dapat aku tawarkan di
negeri lain.
Teman-teman lain berkata bahwa
aku sudah ikutan gila. Orang tua mereka mengatakan bahwa si kakek hanya
berhayal dan tak ada negeri lain seperti yang dijelaskan. Walaupun ada, pasti penduduknya
bekerja di satu gedung yang menaungi wilayah tersebut.
Tapi aku tetap percaya apa yang
kakek katakan, dan tak ingin hidup membosankan seperti ibu panti yang mengurusku
hanya karena sebuah upah.
Aku diajari mengenal nada,
mendiamkan beberapa sapi, membuat syair dan lain hal. Berkebun bersamanya pun
diajarkan secara detail dan tersusun. Dia bilang, menanam saja bisa meghasilkan
banyak uang kalau kita berfikir. Aku paling suka membuat kerajinan tangan
sebagai hiasan. Kakek bilang ada suatu negeri yang akan membayar mahal apa yang
ku buat. Tidak negeri ini yang tak mengerti kebermanfaatan barang mahal buatan
tangan.
Setelah cukup bekal yang
diberikan, beranjak dewasa, aku menyerahkan seluruh hidup pada suatu impian
yang sudah tergambar jelas di benak. Lagian tak akan ada yang kecewa. Karena
tak ada siapaun disisiku.
Perpisahan dengan negeri ini membuatku
sedih. Aku baru sadar kalau selama ini sendirian. Tak ada yang mengatakan selamat
jalan kecuali kakek. Dia berpesan untuk mencari seorang kekasih agar dijadikan
keluarga dan hidup bahagia. Aku pun berharap begitu, akan ada seorang yang
memperdulikanku. Karena takdir pertama tak memberikan keluarga, maka aku pun
harus membuatnya.
Perjalanan tak sesuai harapan. Tentu
saja, banyak padang pasir di luar sana. Sesekali aku mengikuti kawanan unta. Menaiki
mobil dengan ban besar bak baling baling kapal di atas lautan. Setiap
perjalanan memberikan pelajaran. Aku mendapat lebih banyak bekal dan semakin
percaya kalau ada negeri lain yang ku cari selama ini.
...
Hingga aku melihat sebuah kali di
pucuk cakrawala. Sesampainya disana, terlihatlah sebuh gerbang. Orang dari
manamapun berhak masuk ke negeri yang sangat luas ini. Mereka menerima siapapun.
Banyak orang sepertiku yang menjadi anggota baru di negeri tak berujung ini.
Kami berbaris, memperlihatkan
tanda pengenal dari negeri asal masing-masing. Kemudian digantinya sebagai
tanda warga negeri ini. Mereka menanyakan pekerjaan apa yang dikehendaki, dan
ditempel pada tanda pengenal kami sebagai pekerjaan.
Sangat menakjubkan ketika mereka membolehkan
banyak pekerjaan untuk menghasilkan uang dan semua sesuai dengan yang dikendaki
oleh masing masing orang. Aku menjadi seorang pengrajin.
Kami dikumpulkan di satu rumah
dan masih tinggal bersama sebagai pendatang. Mereka bilang jika melakukan
pekerjaan dengan benar dan menghasilkan banyak uang, tentu orang tersebut dapat
membeli rumahnya sendiri. Aku seorang pengrajin akan membuat benda indah,
seperti para penanam yang menghasilkan banyak buah segar dan berwarna warni,
seperti pembuat nada saat melantunkan lagu indah yang mereka jual dalam
lempengan berputar, seperti para penyair ketika mengadakan pentas panggung
berbayar, seperti para pelakon yang memperdagangkan akting mereka lewat tiket
dan tempat duduk, seperti para pembuat makanan saat berjualan pada kerumunan
orang. Disini uang berputar sesama kami, tak perlu lagi Gedung Besar yang memberikan
uang dan menjual semua barang kepada mereka.
Kami memutarkan uang sesama kami
dan ini lebih seru juga asyik.
Komentar
Posting Komentar