IBU KETIGA PUTRI
Mereka
bilang, karena saling memahami wanita akan sering kumpul bersama. Kata-kata
yang selalu tertanam di benak dan membuat aku membangun sebuah ekpektasi
terhadap suatu hubungan. Sesama wanita akan saling memahami? Tidak dengan aku
seorang ibu dari ketiga dara.
Kita
akan percaya pada perkataan orang lain saat benar-benar mengalaminya. Kukira memiliki
anak akan sangat menyenangkan. Terlebih jika mereka perempuan, seorang lain
dari diriku. Orang bilang, sakitnya punya anak akan terasa seumur hidup.
Setelah tersiksa saat melahirkan, rasa sakit akan datang karena tingkah
lakunya. Sekarang aku percaya apa yang mereka katakan.
Jahat
memang saat benar-benar mengungkapkan apa yang ada di hati. Tapi ini kenyataan
yang aku rasakan. Bukan pula mencoba untuk tidak munafik. Rasa lelah yang mendominan,
semakin bertambah karena kehadiran mereka. Bahkan kesepian semakin
menjadi-jadi. Kesepian tak terasa saat kita benar benar sendiri. Jika banyak orang
disekitar maka kesepian akan semakin mencekik. Itu yang dapat menggambarkan
keadaanku bersama tiga dara kesayangan.
Ketidakpahaman
ini sepertinya sama dengan ketidakperdulian mereka terhadap apa yang kurasa. Seperti
inikah perasaan seorang ayah yang dijauhi anak laki-lakinya? Tapi, kurasa tidak
dengan suamiku. Dia bukan seorang yang tersakiti karena tingkah laku putra
apalagi putrinya. Seorang yang enggan untuk merasakan. Sayang hati tidak bisa
diterawang. Tak bisa aku membuktikan kalau benar dia tidak perduli akan tingkah
putra apalagi putrinya. Prilaku yang menggambarkan ketidakpedulian. Semua gerak
geriknya memang merupakan ketidakacuhan. Gagasanku sepertinya akan dilaknat
oleh orang sekitar. Mereka menyangkal apa yang aku rasa. Tapi memang benar
kalau suamiku adalah seorang introvert yang memiliki dunianya sendiri.
Pembantu,
kata yang sangat pantas untuk melekat pada diriku. Kalau ada istilah yang lebih
hina dalam mendeskripsikan jabatan ini di rumah besar mereka, akan ku beritahu
pada semesta. Tugas-tugas di kehidupan mereka harus kukerjakan. Pekerjaan rumah
yang selalu dilakukan dengan perasaan bosan. Mengapa butuh waktu lama untuk memasak
dan membersihkan rumah? Seolah tiga per empat waktu yang Tuhan berikan telah
habis. Sedangkan aku membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan tugas di
kantor. Seorang wanita yang membantu suami dalam mencari uang. Bukannya kami
tidak bersenang senang atau hidup dalam kesengsaraan. Gaji suamiku sudah cukup
untuk menghidupkan keluarga ini. Serakah, sifat manusia yang melekat dan selalu
aku yang ingin memenuhi hasrat tersebut. Demi melengkapi kebutuhan tersier,
rela aku bekerja sebagai pegawai kantoran. Tapi mereka masih tidak paham dengan
apa yang menjadi pengorbananku.
Ingin
aku teriakkan kesengsaraan ini agar semua orang tau dan berharap beberapa dari
mereka akan berempati. Tapi untuk apa? Apa empati mereka dapat mengubah keadaan?
Bahkan
langit pagi yang indah menjadi pelengkap kesengsaraan hari. Teriak bercampur
kebencian masuk ke telinga mereka satu persatu. Energi banyak sudah ku buang
sia-sia. Entah berapa pagi yang harus dihabiskan untuk berteriak. Sampai kapan
harus kelelahan karena kesal akan tingkah mereka. Ah ketiga gadis itu... bahkan
belum bangun saat dua lelaki sudah beranjak dari mimpi dan minta untuk segera dilayani.
Selain
memiliki 3 putri aku juga memiliki seorang putra. Hadiah yang Tuhan berikan
setelah kelahiran dara-daraku. Kehidupan bersama keempat anak. Makian selalu
keluar karena prilaku yang memuakkan. Bukan bermaksud untuk membuat bekas luka di
hati atau memori. Hanya saja, mereka selalu membiarkan aku sendirian sesudah menghancurkan
seisi rumah.
Setelah
bergemih dengan panci aku harus berteman dengan peralatan kotor. Bahkan sampah pun
menghiasi meja makan dan harus dibersihkan. Kemudian mengisi perut dengan masakan
sendiri, segera ku kembai ke pencucian membereskan tumpukan piring kotor yang
kami gunakan. Lelahnya, terlebih karena mereka tidak meletakkan barang dengan
benar.
Tahun
ini anak pertamaku beranjak dewasa. Semoga tumbuh pula inisiatif pada dirinya. Dara
yang paling banyak menelan garamku. Tak juga dia dapat berfikir untuk membantu.
Malah semakin sering menghabiskan waktu percuma dengan teman sebaya. Makian yang
selalu keluar bukan hanya menggores hatinya tapi juga menyiksa batinku. Tak
bisakah membantu? Dia sudah cukup besar. Tapi tenaga yang dia keluarkan hanya
sebesar ujung kuku. Tak sebanding dengan tubuh jenjangnya. Apa tangan seorang
dara terlalu suci untuk bergemih dengan debu di rumah ini? Kegaduhan pun sering
dibikinnya.
Aku
selalu berharap, mereka akan mendapatkan pelajaran yang benar dari guru di
sekolah. Seorang ibu yang sulit menahan emosi menyebabkan ketidakmampuan untuk memperkenalkan
dunia pada anak mereka. Kalimat yang tepat untuk mengambarkan kesalahanku.
Amarah tak tertahan karena ketidaktahuan mereka. Kurang bijak memang, walaupun
sesekali aku mencoba untuk mengajari. Sungguh lelah rasanya. Sudahlah,
pekerjaan rumah ini terlalu banyak, belum lagi urusan kantor yang tak kunjung
selesai. Aku serahkan sepenuhnya kepada guru mereka di sekolah.
Daraku
tak kunjung berubah. Sang guru terpercaya tak dapat mengajar dengan baik. Tuhan
belum menghendaki agar daraku mengerti. Tak ada yang bisa disalahkan. Bahkan aku
saja menyerah mendidik ketiga dara itu. Orang bilang masakan sehat akan membuat
cerdas. Setiap hari tanpa terlewat, selalu ku buatkan makanan sehat untuk
mereka. Dengan selalu membawa harapan agar mereka berubah suatu hari kelak.
Bahkan
benda mati di rumah ini terasa membebani. Rumah besar yang dibangun suamiku
menambah lengkap penderitaan. Ah manusia kurang ajar tak tau bersyukur. Tapi
memang benar, banyak ruang untuk debu singgap disini. Ketiga daraku enggan
untuk menyingkirkan debu-debu itu. Maka tangan kotor dan tebal ini harus dikorbankan.
Kasih
sayang yang menyengsarakan. Tak akan tega aku membiarkan baju mereka kusam.
Selalu ku cuci pakaian kotor yang terlilit itu. Entah bagaimana cara mereka melepaskan
pakaian, semua baju kotor menggumpal menjadi satu. Tak pernah berfikir untuk membenarkan
baju supaya mempermudah ibunya untuk mencuci. Sudah diperingatkan dengan makian,
tetap saja tidak mengerti.
Tumpukan
baju bersih yang lusuh harus segera disetrika. Membuka lemari pakaian yang
berantakan, kemudian membereskannya. Hati-hati ku memasukkan baju yang sudah
licin ke dalam lemari ketiga dara itu. Sedangkan hati menangis melihat mereka yang
tega sedang asik menonton televisi. Tangan bak berlian yang tak pernah
dibiarkan tergores sedikitpun. Tak bisakah membantu? Mungkin mereka terlalu
belia untuk mengerti.
Hari
libur bukan untuk orang yang bodoh. Bahkan aku kesulitan memaksa ketiga dara
itu membersihkan pakaian dan kamar mereka. Lelah dengan semua teriakan yang
tak digubris. Aku selalu bersedia untuk membersihkan apa yang dikotori. Di
akhir pekan pun harus membereskan rumah dan menghadiri pertemuan kantor suami. Itulah
kehidupan ibu rumah tangga.
Di
hari pertama dalam setiap minggu, aku akan bergemih dengan panci dan peralatan
yang harus dibersihkan. Kemudian menempuh jarak berpuluh kilometer untuk sampai
di tempat kerja. Harus ku habiskan waktu di jalan bersama polusi selama 1 jam. Pergi
dari rumah yang menyengsarakan. Kemudian bertemu kesengsaraan baru. Tak ada
bawahan disana yang dapat membantu. Hanya atasan yang berkuasa dan teman yang
tak dapat diandalkan. Lengkap sudah memang, setiap tahun perusahaan ini selalu
berganti atasan. Harus pula aku berubah untuk menghadapi setiap karakter yang
berbeda. Kehidupan seorang pekerja tanpa mimpi. Aku hanya bisa patuh menjalani
nasib. Kehidupan seorang yang keras dan gila kerapihan.
Tuhan
selalu memberikan kekuatan, sehingga aku masih sanggup berdiri di kehidupan
yang menguras banyak energi, pikiran dan perasaan ini. Hanya saja tangisan akan
keluar saat sakit mencapai batas kemampuan. Meringkuk badan kecil nan lusuh
tanpa ada yang mau menenangkan. Berkali kali ku ancam mereka dengan kematianku
sendiri, walau bukan itu harapkanku. Tapi mereka tak kunjung iba. Mungkin hanya
menganggap bahwa aku adalah seorang ibu gila yang terlalu menuntut.
Yang
lebih cinta memang yang paling menderita. Selalu ku penuhi keinginan ketiga
dara itu. Bukan bermaksud untuk mengutuk, aku hanya bingung antara kebodohan
atau memang mereka yang tidak tau diuntung. Ketiga dara ku dapat menghabiskan
waktu berjam jam hanya untuk menonton televisi. Tapi apa yang aku lakukan? Tv
kabel segera dipasang agar mereka lebih menikmati tontonan yang bervariasi. Ah
orang bilang cinta buta. Aku hanya ingin membuat mereka lebih menikmati apa
yang mereka suka. Walaupun sering cacian menerobos masuk ke ruang tv dari dapur
rumah.
Mereka
sangat menyukai masakanku. Tak ada pilihan lain selain memuat makanan beragam.
Bahkan cemilan pun akan ku buatkan, walau di ujung atau tengah hari mereka akan
minta dibelikan jajanan. Andai saja meminta tolong semudah yang dibayangkan.
Tak akan ku keluarkan kata makian di depan mereka. Setiap hari hanya berteriak
kelelahan. Padahal maksud hati meminta pertolongan.
Tuhan
akan menyisakan satu emas untuk penambang yang bekerja keras. Itu yang maksud
dari keberadaan satu diantara ketiga dara tersebut. Sering kali aku terlihat
kasihan pada daraku. Terkadang dapat kurasa empati yang dia berikan. Walaupun tak
sepenuhnya dapat mengerti keadaanku.
Seorang
dara yang memiliki banyak kemauan. Sesekali diceritakannya kehidupan di sekolah.
Bagaimana dia bangga ketika membuat pertemanan baru, saat dipuji guru, ataupun jika
seorang teman memberikan hadiah. Andai saja aku penyabar, pasti akan tertanggapi
semua yang menjadi keluh kesahnya. Tapi apa daya, keterbatasanku menahan emosi
sering membuat dia terluka karena amarah yang tak sengaja aku tuangkan di
hari-hari cerahnya. Jika aku lebih pandai berempati, mungkin dapat ku tahan
amarah ini. Walau begitu, dia daraku yang akan terus bercerita walau tanpa
respon dari ibunya.
Aku
hidup di lingkungan yang penuh persaingan sosial. Para tetangga selalu memuji pencapaian
anak mereka. Mendengarkan selalu menjadi kegiatan bijak yang aku lakukan. Hanya
memerhatikan tanpa bisa membalas. Walaupun satu dari dara kesayanganku sangat
rajin, tapi bukan hal yang etis untuk dipamerkan.
Empati
adalah hal yang selalu aku butuhkan. Bahkan berpura-pura pun aku tak mampu.
Tapi selalu ada niat untuk memuji setiap kelakuan baik yang mereka lakukan. Apalah
arti niat tanpa pelaksanaan, malah lekas hilang karena keraguan dan
kecanggungan. Pernah suatu ketika, satu dara itu mendapatkan prestasi
membanggakan. Jika saja aku lebih ekspresif, pasti sudah terucap banyak pujian
sampai membuatnya melayang. Tapi aku hanya bisa berharap, semoga dia tahu suka
citaku terhadap pencapaiannya.
Orang
lain selalu menyalahkan, tapi ini yang bisa ku perbuat. Seorang ibu dengan
karakter pemarah dan hanya memiliki sedikit kesabaran. Aku hanya dapat
memberikan fasilitas lengkap seperti televisi, komputer, handphone, atau buku elektronik. Agar mereka senang dan dapat
belajar dari banyak fasilitas yang disediakan.
Seorang
manusia yang kurang rasa sosial. Selalu kesusahan untuk menjalin komunikasi
dengan dara sendiri. Aku juga bukan seorang yang penuh kasih sayang. Bahkan
individu yang tak pernah sanggup meredam amarah saat melihat tingkah anak-anaknya
yang menjengkelkan. Walaupun begitu, aku sangat tulus mencintai mereka, ketiga
dara dan anak laki-laki yang merupakan anugrah Tuhan serta suami pendamping
hidupku. Walaupun sering tak tahan dan ingin mengucapkan kata berpisah. Namun,
aku selalu ikhlas tersakiti akan tingkah mereka. Sering ku bertanya kepada
Tuhan, apakah mungkin keikhlasan dapat menyentuh dinding langit agar mereka beruntungan
di masa depan?
Komentar
Posting Komentar