Negeri
itu dipisahkan oleh dua ruang, istana dan desa. Keduanya memiliki ketetapan
masing-masing bagi setiap penghuni. Tak satupun makhluk dapat melawan hukum
alam. Seseorang yang terlahir dalam
istana haruslah tetap berada di istana, agar takdir berjalan sesuai aturannya
begitupun seorang yang terlahir di desa. Semua akan berjalan sesuai rencana
jika pemilik dan takdir tidak saling berhianat.
Seorang
pangeran haruslah menawan agar membuat semua wanita terpikat. Tapi itu hanya
akan berlaku jika dia tetap tingal di dalam istana. Pangeran di negeri itu
sudah hidup sesuai takdirnya. Dia menawan, bijaksana, dan cerdas. Terkenal
dengan keramahan dan hati baik, pangeran juga seorang yang menyenangkan bagi
para pengawal. Begitu indah takdir yg sudah ditetapkan Tuhan.
Pangeran
terlahir dengan banyak keinginan dan ketidakpuasan. Dia selalu tenggelam dalam
pencarian. Beranjak dewasa, dia merasa ilmu yang diajarkan di istana tidak
seperti ilmu yang selalu dibayangkan. Entah karena tidak puas ataupun enggan
untuk merasa, keduanya sulit untuk dibedakan. Pangeran merasa di luar istana
akan banyak ilmu yang benar-benar ingin dia pelajari. Sebuah keinginan yang
membuatnya memutuskan untuk meninggalkan istana, dengan alasan ingin belajar
banyak hal dari rakyat. Namun, hanya pangeran yang benar-benar mengetahui alasan
sehingga membuatnya meninggalkan takdir yang rekat menggantung di langit
istana.
Tuhan
Yang Maha Penyayang Dengan Agung menuliskan ketetapan yang begitu baik untuk
pangeran. Pangeran sudah meninggalkan takdir yang selalu menggantung indah di
langit langit istana. Sekarang, dia bertanggung jawab untuk menuliskan semuanya
seorang diri. Untungnya pangeran masih memiliki hati dan wajah yang selaras. Sementara
yang lain sudah tertinggal di balik gerbang istana.
Pangeran
ragu karena tidak memiliki kemampuan untuk bertahan di desa. Dia merasa ilmu
memang harus berada pada tempatnya. Ilmu yang dipelajari di istana memang hanya
bisa dipergunakan di dalam istana. Sekarang pangeran sedang mencari cara untuk
hidup. Bekerja sebagai mekanik sangatlah tidak mungkin, pengawalnya yang
memiliki kemampuan tersebut. Membangun bangunan? dia tidak punya keterampilan.
Menjadi seorang seniman? sangat sulit baginya untuk merasakan.
Ketampanan
akan selalu menjadi keindahan di langit manapun. Ketampanan akan selalu menjadi
lukisan yang menggantung di tembok beratap langit. Keindahan yang selalu
pangeran bawa membantunya dalam mendapatkan pekerjaan. Dia diperkerjakan
menjadi penjaga toko buah. Pemilik toko ingin pangeran menggunakan wajah
tampannya untuk menarik beberapa pembeli, khususnya para wanita. Benar saja,
penjualan buah meningkat. Bahkan, beberapa pria lebih memilih untuk membeli buah
di toko yang pangeran jaga.
Pangeran
bukanlah seorang yang suka bermalas malasan. Dia seorang yang menyenangkan.
Sudah setahun berada di desa dan belum berkenaan untuk kembali ke istana, tetap
menjadi penjaga toko buah. Entah hal apa yang dia cari, sampai sampai waktu
membawanya cukup jauh meninggalkan istana. Tidak ada warga yang mengetahui
identitas pangeran. Tak satupun mengetahui bahwa mereka saling berbagi udara
dengan anggota kerajaan.
Kewajiban
seiisi negeri adalah untuk menyukai anggota kerajaan, tapi tidak ada ketetapan
yang menyatakan bahwa mereka harus menyukai seorang penjaga toko buah. Pangeran
yang selalu membawa ketampanannya sebagai bahan candaan dianggap sombong oleh
sebagian warga desa, beberapa orang bahkan membecinya. Tapi tidak sekidit pula
yang menyukai lelucon pangeran. Bukan maksud untuk merendahkan warga desa yang
tentu tak seindah dirinya. Hanya saja pangeran sangat menyukai ketampanannya.
Selain itu banyak wanita yang mendekati pangeran karena wajah tampan dan
leluconnya, meski mereka enggan untuk lebih dekat dan berteman dengan pangeran.
Apalagi menjalin sebuah hubungan.
Selama
di istana, dia selalu dipuji akan pekerjaan yang diselesaikan dengan benar.
Pangeran memang seorang yang benar saat bekerja. Namun, warga desa yang sering
menampilkan paradoks enggan mengakui keberadaan pangeran. Mereka tidak sudi
memberikan pujian kepada penjaga toko buah.
Sudah
setahun pangeran menjalani hidup sebagai warga biasa, tanpa puja puji ataupun
penghargaan. Kepekaannya pun bertambah, bahkan dia dapat mengetahui wajah dibalik
topeng indah warganya. Pangeran dapat membedakan antara keperdulian dan
keingintahuan. Dia dapat melihat wajah orang-orang dengan gambaran hati mereka
masing-masing. Pangeran mulai berfikir tentang semua cinta yang dia terima di
istana. Cinta yang mungkin saja hanya sebuah fatamorgana dalam kamera mainan
anak-anak.
Orang
bilang setiap lapisan awan pasti ada bidadari. Hal tersebut tepat untuk
menggambarkan keberadaan wanita desa yang dijuluki primadona ini. Namanya Hjhj,
seorang wanita yang sulit tersenyum. Namun tidak memengaruhi ataupun mengurangi
kecantikannya. Wanita lain akan sering tersenyum untuk menambah kecantikan
mereka. Tapi kita tidak akan benar benar tau apakah itu sebuah senyuman atau
hanya kekuatan mereka dalam menganggat otot bagian mulutnya. Apapun itu, pria
di negeri ini akan menganggap bahwa senyuman wanita merupakan kecantikan yang
patut dinikmati.
Tapi,
tidak semua pria berpendapat seperti itu. Gaston, pria yang cukup berkuasa,
hanya akan melihat satu wanita. Seorang pria yang cukup dihormati dan memiliki
banyak harta. Terkenal akan cintanya terhadap sang primadona berhati dingin.
Hjhj memang banyak disukai para pria, bahkan kabar kecantikannya sampai ke istana.
Sempat ingin dijadikan dayang-dayang, tapi ditolaknya dengan sopan permohonan
tersebut. Rumor mengatakan bahwa Hjhj menolak karena akan dinikahi oleh Gaston.
Warga desa sangat suka bercerita serta menambahkan beberapa kalimat agar sesuai
dengan cerita yang diinginkan. Atau rumor itu dibuat oleh Gaston sendiri? Kalau
benar, sungguh pria yang narsistik.
Pangeran
pertama kali melihat sang primadona desa dari kejauhan, sedang membeli beberapa
buah di toko lain. Dia bukan seorang yang perasa. Alih alih jatuh cinta karena
kecantikan Hjhj, Pangeran malah memerhatikan sikap dingin wanita itu. Hjhj
memang terkenal akan keengganannya untuk tersenyum. Dia hanya akan mengangguk
sebagai rasa hormat saat bertemu orang lain. Beberapa berfikir bahwa itu adalah
sebuah sikap yang sangat dingin. Tapi menurut pangeran, Hjhj menunjukkan
prilaku tulus yang sesuai dengan hati nya. Bukannya paradoks sebagai topeng
sopan santun.
Hari
itu memang Hjhj sedang mencari toko buah untuk dijadikan pemasok. Dia seorang
pemilik toko manisan yang cukup terkenal di desa. Hjhj mengolah beberapa buah
dan sayur untuk dijadikan makanan tahan lama. Pemasok di tokonya ialah seorang
kakek yang baru saja meniggal dunia 2 hari lalu. Oleh sebab itu, dia berencana
mencari pengganti lain.
Takdir
sudah menuliskan pangeran dan Hjhj untuk bertemu. Entah dimana berada, yang
pasti ketetapan itu bukan milik pangeran. Hjhj memasuki toko buah yang pangeran
jaga lalu menyapanya. Hanya sebuah sapaan sebagai sopan santun. Setelah melihat
beberapa buah, dia meminta pangeran untuk menjadi pemasok di tokonya. Tentu
saja pangeran senang, dia sudah membayangkan wajah pemilik toko jika mendengar
berita tersebut. Wanita itu lekas pulang tanpa melanjutkan ke toko lain.
Sedangkan pangeran yang sedang gembira dipenuhi tatapan kecemburuan para pedagang
di sekitar tokonya.
Hari
berikutnya, pangeran mengantarkan beberapa buah ke toko Hjhj. Dia disambut
dengan hangat, tidak seperti hari pertama mereka bertemu. Segera dipindahkannya
beberapa keranjang buah. Saat itu pula, seorang pria datang menyampiri Hjhj.
Ingat
betul pangeran siapa pria itu. Salah satu pelanggannya, Gaston. Seorang yang
cukup disegani bahkan digilai para wanita desa. Pelanggan pertama pangeran saat
menjadi penjaga toko buah. Gaston hanya akan membeli apel saat berbelanja. Dia
datang pada hari tertentu. Wanita desa bahkan tau kapan jadwal Gaston
mengunjungi toko pangeran. Pada hari tersebut mereka bersolek dan mulai
melakukan pementasan sandiwara. Beberapa wanita menjadi pembeli, sedangkan yang
lain sibuk memilih barang di toko terdekat. Ada pula wanita yang hilir mudik di
depan depan toko pangeran. Semua dilakukan untuk menarik perhatian Gaston.
Sebelum dimulainya sandiwara, mereka akan bertanya secara arogan kepada
pangeran. Saat penonton yang ditunggu tunggu tiba, kearoganan mereka
tersembunyi di balik gaun cantik yang dikenakan.
Boleh
juga Gaston tidak pernah termakan godaan. Ternyata karena si primadona. Namun,
Hjhj tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap pria yang terhormat itu.
Dibanding wanita lain, Hjhj memang
istimewa. Seisi negeri tau kalau Gaston sangat menyukainya. Kecuali orang yang
tinggal di istana. Tentu saja, tidak semua berita dapat menembus kerapatan
tembok istana.
Pangeran
bergegas pulang, tidak ingin mengindahkan keduanya, khawatir rasa penasaran
semakin membesar. Sebenernya dia ingin tau alasan yang membuat Hjhj tidak
tertarik pada pria luar biasa seperti Gaston. Pangeran juga penasaran mengapa
Gaston tidak pernah berpaling ke wanita lain yang sudah pasti akan menerimanya.
Ah
benar, bahkan pangeran melupakan biaya yang seharusnya dia pinta. Sesaat ingin
memasuki mobil, Hjhj menghampiri dan memberikan uang kepada pangeran. Wanita
ini memang lebih ramah dari sebelumnya, bahkan lebih hangat terhadap pangeran
dibanding Gaston.
Pangeran
selalu ingin tau pemandangan yang terlihat oleh Gaston saat para wanita
bersandiwara. Jika diumpamakan, panggung pementasan akan berlangsung saat
Gaston membeli buah apel di toko pangeran. Pria itu bak penonton yang
diagungkan, sedangkan pangeran seperti pesuruh di belakang panggung. Pangeran
hanya akan melihat wajah para rubah, tak akan dia lihat penampakan depan
panggung. Di lain tempat, Gaston sudah duduk manis menunggu pementasan.
Kemudian rubah akan bertransformasi menjadi kucing berbulu tebal nan halus.
Pangeran
sekarang sedang berbangga diri. Hjhj memperlakukannya lebih spesial dibanding
Gaston seorang yang berkuasa. Entah sandiwara atau bukan, pangeran sudah
seperti melayang saja. Bagai menyaksikan lakon aktris papan atas di bangku
terdepan. Tapi, mengapa Hjhj dengan susah payah pentas di depan tamu yang tak
berarti layaknya pangeran?
Hjhj
bukan seorang yang suka memalsukan tindakan. Dia memang lebih bersikap manis,
karena wanita itu menyukai pangeran. Ah pantas saja dia lebih hangat dibanding
sebelumnya. Sejak kapan Hjhj menyukai pangeran? Tidak mungkin pada hari pertama
mereka bertemu bukan?
Pangeran
tidak punya alasan untuk tidak menyukai Hjhj, seorang wanita yang berbicara
hangat tanpa pamrih. Tentu saja, primadona desa yang tulus bahkan memperlakukannya
secara adil. Pertama kali pangeran diperlakukan baik oleh seorang wanita.
Bahkan saat pertemuan kedua, dia sudah merasa teristimewa. Tak pernah
menyangka, perlakuan hangat didapatkannya di luar istana sebagai seorang
penjaga toko buah.
Setiap
minggu keduanya selalu bertemu. Pangeran akan datang untuk mengantarkan buah.
Beberapa bulan pertama keduanya sangat canggung. Mereka hanya saling melempar
senyuman tanpa berkata sedikit pun. Pangeran sudah benar-benar masuk di
kehidupan Hjhj. Dia membuat wanita itu tersenyum walau dengan canggung. Tak ada
seorang yang pernah melihat senyumannya bahkan Gaston sekali pun. Semakin lebar
senyuman itu, menambah debaran di hati pangeran.
Insting
seorang pria yang terkubur dalam diri pangeran muncul, tak segan ia mengikuti.
Ingin selalu dia bertemu Hjhj yang sudah menjadi pujaan hati. Setiap hari,
diantarkannya beberapa keranjang buah. Padahal bisa saja pangeran mengantarkan
buah setiap 3 kali seminggu untuk menghemat tenaga. Tapi, dia menjalani ide
yang membuatnya dapat berkunjung setiap hari ke toko Hjhj. Bahkan kalau perlu pangeran
hanya akan mengantarkan satu buah setiap detiknya. Agar tidak terlewat sedikit
pun waktu untuk tidak melihat Hjhj.
Sore
hari, keduanya selalu berbincang dengan dalih menjalin kerjasama. Waktu dimana
pangeran mengakhiri harinya sebagai penjaga toko buah. Hjhj bahkan selalu
menunggu di depan toko. Keputusan tepat agar lebih lama menghabiskan waktu berdua
di ujung hari.
Pangeran
dan Hjhj seperti sedang melintasi awan sambil berpegangan tangan. Semakin
tinggi makin melayang, tak terjangkau. Entah apa yang menjadi topik
pembicaraan, mereka selalu bercerita hingga langit biru padam. Waktu petang
menjadi milik keduanya. Berjalan di bawah langit desa tanpa arah, melihat
matahari terbenam dari berbagai sudut pandang. Terkadang dinikmati sisa hangat
matahari di pelabuhan, pantai, taman, bukit, ladang, sawah, gardu, atau jalan
setapak. Berjalan hingga matahari tak lagi menghangatkan bumi, waktu keduanya
untuk berpisah.
Secepat
hangat berganti dingin saat malam, rumor keji menyebar tanpa tau asal usulnya.
Kecemburuan mendasari hal keji terjadi. Para wanita munafik menjadi lebih
serakah. Sebelumnya hanya menyukai lelucon dan wajah tampan pangeran. Tapi
sekarang mereka ingin diri pangeran seutuhnya. Tak ingin ada wanita lain yang
mendekati bonekanya. Boneka kesayangan yang mereka mainkan secara diam diam
karna malu pada dunia akan kelusuhannya.
Tak
hanya wanita munafik yang menghendaki kehancuran pangeran. Gaston, seorang pria
yang berkuasa, telah merubah cinta yang dia jaga selama bertahun tahun menjadi
sebuah ambisi. Ambisi untuk memiliki Hjhj. Hatinya yang penuh cinta dikuasai
rasa cemburu dan dengki terhadap pangeran.
Para
pedagang yang merasa tercurangi seperti mendapat kekuatan untuk menyalahkan
pangeran yang sedang menjadi issue di setiap percakapan warga. Warga desa
memang mengerikan, mereka orang-orang yang berani maju untuk mengambil alih
paksa sesuatu hanya demi uang. Padahal keahlian pun tak punya. Warga desa bersama
kecemburuan mereka telah membangun rumor hanya untuk memuaskan semua sifat keji
dan melampiaskannya kepada pangeran.
Tanpa
tau rumor yang sedang menghina dirinya, pangeran berencana melakukan perjalanan
bersama Hjhj ke bukit seberang sungai yang terletak di bagian selatan desa.
Berbekal manisan, tak lupa keduanya memasang papan pemberitahuan tutup di depan
toko masing-masing. Hjhj bersolek dan memakai gaun yang paling cantik, bahkan
dia menempatkan bandana di atas kepala. Rambutnya diikat tidak terlalu kencang
dan disematkan ke samping, sangat terlihat anggun. Terlebih lagi pangeran,
ingin rasa nya dia pulang ke istana untuk mengambil kostum kerajaan dengan
banyak lencana emas di bagian pundak dan dadanya. Tapi dia hanya bisa memakai kaus terbaik hari ini, bahkan kemeja
pun ia tak punya.
Melihat
kedua toko yang tutup, para pendengki semakin menjadi-jadi. Entah rumor jahat
apa yang sudah mereka bangun, sampai sampai memutuskan untuk menghukum gantung
pangeran. Di negeri ini, semudah itukah mereka memutuskan sebuah perkara hukum?
Obor obor api dengki menyala, raung raung kecewa mengeras. Langkah kaki hina
menghentak bumi. Mereka hendak melampiaskan semua kekecewaan dan ketidakpuasan
akan dunia kepada pangeran. Memusnahkan pangeran akan membuat diri mereka
terselamatkan dari kesalahan. Orang macam apa yang dapat berfikir seperti itu!.
Pangeran
dan Hjhj melakukan perjalanan panjang, menuju bukit sebagai tujuan mereka.
Sesekali beristirahat di bawah pohon
rindang dan memakan beberapa bekal. Selama setahun, baru kali ini
pangeran sedih karena tak memiliki apapun. Tak tega dia melihat Hjhj berjalan
kaki sejauh ini. Sebenarnya, Hjhj seorang yang kaya dan sudah tentu memiliki
banyak kuda. Tapi, tak ingin dia menodai harga diri pangeran karena penawaran
itu.
Sepanjang
perjalanan mereka hanya saling melempar pertanyaan. Kedua insan sedang
mendalami masing-masing pikiran lawan jenisnya.
“Kenapa
kamu tidak melanjutkan pekerjaan dengan cucu kakek?” Ungkap pangeran.
“Buah
yang dijual di tokonya tidak sesegar saat kakek masih hidup. Kurasa kakek tidak
pernah mengajarkan ilmu bertani pada cucuya. Ilmu dan cintanya tidak dititipkan
kepada sang cucu, maka itu harus mencari pemasok lain dengan buah yang segar”.
Jawab Hjhj.
“Kenapa
selalu buat lelucon dengan membawa ketampanan?” Hjhj balas bertanya.
“Di
dunia ini banyak nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadaku. Aku baru sadar
setahun yang lalu. Hanya saja beberapa nikmat hilang karena sebab yang tidak
dapat aku ceritakan. Tapi tidak semua nikmat dicabut oleh Tuhan ku. Salah satunya
ketampanan ini, bahkan sudah kudapatkan saat ruh ku ditiup, tanpa harus
bersusah payah aku mendapatkannya. Nikmat yang begitu sempurna, tanpa campur
tangan manusia sedikitpun. Aku bahkan mendapat pekerjaan karena wajah tampan
ini. Orang lain mungkin akan menganggap aku orang yang sombong, mereka membuat
opini sendiri tentang leluconku. Padahal, semua adalah bentuk rasa syukurku
terhadap nikmat Tuhan”. Tau betul pangeran bahwa memang wajah tampan yang
membuat dia dapat bertahan di desa. Walaupun harus membayar dengan banyak
kepalsuan orang sekitarnya.
Kembali
pangeran bertanya “kenapa kamu tidak suka Gaston? Menurutku dia seorang yang
gagah, kaya, berwibawa, bahkan baik”.
“Sepertinya
dia tidak benar-benar menyukaiku. Bukan mau menghakimi perasaan orang lain.
Tapi aku percaya dengan apa yang aku rasakan. Rasa cinta gaston yang sering
diceritakan oleh warga desa, terasa seperti ambisi bagiku. Ambisi yang dapat menjadikannya
monster dengan penuh kesombongan. Ah maafkan, karena sudah menghakimi. Aku
seorang yang menghindari konflik,
mempercayai apa yang aku rasakan. Menurutku lebih baik menghindari pria
berambisius itu. Untung nya hati mengikuti apa yang aku kehendaki. Walaupun selama
bertahun-tahun Gaston sangat baik, tapi aku tidak kunjung luluh”.
Takjub
pangeran dengan jawaban Hjhj. Dia mementingkan ketulusan terdalam yang memang
hanya bisa dirasa oleh beberapa orang saja. Lebih tepatnya, hanya bisa dirasa
oleh orang-orang yang bersedia merasakan.
Kembali
pangeran bertanya. “ kenapa tidak pernah senyum kepada orang lain?”.
“Aku
tidak pernah tau hati manusia. Menurutku senyuman hanya pantas untuk
orang-orang yang tulus saja. Dari pada memberikan ke orang yang salah, aku
lebih memilih untuk tidak memberikan senyuman kepada siapapun”. Jawab Hjhj
“Kalau
memberikan senyuman pada orang yang tulus, aku akan sangat bersyukur. Bukankah
seorang yang tulus tidak berharap penghargaan dari siapapun? Aku hanya sebisa
mungkin bersikap adil pada orang yang ditemui, karena aku tidak benar benar tau
apa isi hati mereka”.
Kenyamanan
membuat keduanya semakin akrab. Sebelumnya, pangeran tidak pernah tahan saat
berbicara dengan wanita. Sekarang, dia malah berharap waktu berjalan perlahan. Wanita
desa selalu mengibas ngibaskan rambut saat berbicara. Walau pun tidak semuanya.
Hanya saja, wanita anggun yang tidak mengibaskan rambut enggan berbicara pada pangeran.
Pangeran tidak menyangka akan ada wanita seperti Hjhj. Seorang yang berbicara
dengan penuh kelapangan tanpa mengibas ngibaskan rambut. Pangeran telah jatuh
cinta.
Di
tempat lain, para warga keji sedang mencari keberadaan pangeran dan Hjhj. Mereka
sibuk dengan celotehan serta antusias membenarkan perkataan satu sama lain. Seolah-olah sedang megupas
sebuah jeruk untuk memakannya secara arogan.
Kebencian
semakin menyebar, para wanita mengunjing bahwa pangeran adalah seorang
misoginik, para pria memurkai kesombongan pangeran. Hina sekali tuduhan mereka.
Gaston yang dianggap bijak, telah tenggelam dalam kecemburuan yang melahap
kasih sayang menjadi ambisi hina.
Sementara,
pangeran dan Hjhj tetap menikmati keindahan petang. Tanpa tahu kebencian dan
kepalsuan yang ditebar warga desa. Sekarang, keduanya memutuskan untuk kembali.
Mereka berencana menikmati sisa keindahan petang di perjalanan. Melihat wajah
matahari dari berbagai sudut pandang. Matahari bergerak turun seiring dengan langkah
kaki yang menuruni perbukitan. Berjalan selaras bersama bumi yang mengintari
orbitnya.
Bersama
semua harmoni tersebut, di belahan bumi lain, kejahatan sedang mendekati
keduanya. Menentang semua kebaikan. Warga desa dengan tega memutuskan hukuman
gantung kepada pangeran. Kemanusiaa mereka
sudah terbakar oleh api cemburu, dengki, juga ambisi. Menjadikannya makhluk
jahat melebihi setan. Entah hukum macam apa yang berlaku di desa ini, sampai
sampai mudah memutuskan perkara hanya dengan musyawarah berdasarkan sebuah rumor bukan fakta.
Raja
di negeri ini cukup bijak, tapi tidak ada keadilan dalam dirinya. Di istana,
musyawarah hukum akan dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Mereka akan
menjalankannya berdasarkan bukti bukan rumor. Musyawarah dengan pikiran dan
kebijakan tanpa tertutup dengki. Perkara
yang diputuskan oleh seorang yang benar dalam ilmu dan tindakan.
Sedangkan
di desa, sebuah perkara diputuskan oleh
orang-orang yang dipenuhi rasa dengki. Hukum istana yang agung dan benar tidak
sampai di kehidupan semua warganya. Kerapatan dinding istana menjadi penyebab
kebaikan sulit sampai ke warga desa. Ironi memang, anggota keluarga kerajaan
tercinta akan menanggung kebodohan warga akibat ketidakadilan raja.
Entah
hal apa yang membuat pangeran menerima takdir yang mengerikan itu. Apakah karena
penghianatan pada takdir baik di istana? atau mungkin karena pangeran tetap
menjadi penjaga toko buah walau sudah setahun keluar dari istana dan tidak
kunjung kembali. Sehingga dia tetap dihina oleh rakyatnya yang begitu
bodoh.
Memasuki
desa yang terkutuk, pangeran dan Hjhh dipertemukan beribu pasang mata. Warga
desa membawa obor bergema hina. Menimpuk tomat bahkan batu ke arah mereka. Sang
pendekar setan maju dengan arogan menyeret pangeran. Gaston seolah berubah
menjadi seekor kecoak besar. Jerit isak Hjhj tak terdengar, tertutup raungan
kejahatan para iblis desa yang sedang menonton. Tak bisa dijelaskan peristiwa
hina menjijikan, menodai bumi dan seiisinya. Peristiwa yang sangat memalukan,
termakan kebodohan. Pangeran pun meninggal di atas tali kusam.
Desa
itu menjadi terkutuk akibat ulah warganya. Hjhj meratapi kepergian pangeran tanpa
bisa menerima semua alasan konyol warga desa. Tak ada dari mereka yang merasa
bersalah. Pemilik toko memberikan semua barang pangeran pada Hjhj. Dimasukannya
ke dalam karung bekas buah. Sehina itukah pangeran bahkan di mata pemilik toko
yang mendapat banyak uang dari hasil kerjanya? Hjhj sangat murung, enggan dia
beraktifitas seperti biasa. Keluar melihat desa pun dia muak. Lebih muak dari
sebelumnya.
Sekarang,
dia hanya dapat membaca setiap halaman buku harian yang pangeran tinggalkan
Aku begitu bersyukur karena Tuhan
mempercayakan ini, hanya itu saja. Aku tidak mengerti mengapa kalian berkata
seperti itu. Padahal aku hanya memuji karunia Tuhan yang memang seharusnya
dipuji. Aku masih belum menemukan apa yang ingin ku cari. Bahkan tidak tau
sebenernya apa yang dicari. Apa aku sudah betindak bodoh? Keluar istana tanpa
mengetahui tujuanku. Aku merasa menyesal meningggal kan istana tanpa alasan.
Sudah setahun aku hidup belum ada jawaban atas pencaharianku, apa karena aku
kurang berusaha? Aku banyak mempelari hal disini, tapi tetap tidak menemukan
jawaban. Apakah karena aku kurang berusaha dan melihat? Selama setahun tak
pernah dikunjungi? Kenapa? Apa karena terlalu percaya? Atau malah senang aku
tidak berada di sekitar mereka? Ah mungkin mereka lupa kalau pernah memberi
ijin pada pangeran, lupa kalau ada anggota kerajaan yang meninggalkan istana
satu tahun yang lalu. Memang banyak hal yang mesti diurus.
Meronta
makin Hjhj menemukan fakta kalau pria itu adalah seorang pangeran. Setiap
halaman membuat dia semakin terisak.
Ku rasa sudah menemukan apa yang
menjadi pencaharianku. Sedih rasanya, kalau saja selama setahun lebih
berkembang, pasti aku dalam keadaan terbaik saat bertemu dia. Aku bertekat
membawa nya ke istana, kan ku jadikan putriku. Besok kami akan bersusah payah
untuk melihat keindahan bumi. Bukit dimana dapat melihat bendera istana. hari
berikutnya, kan ku ajak dia ke istana dan memandang bukit itu sambil
bernoltalgia.
Setelah
membaca buku harian pangeran, Hjhj sangat menyesal. Dia berandai kalau saja mereka
dapat dipertemukan di istana. Kalau saja dia tidak menolak permintaan kerajaan
saat itu. Mungkin mereka akan hidup bahagia tanpa harus memerdulikan warga desa
yang keji.
Kemana
anggota kerajaan lain? Selama setahun, apa raja telah lupa kalau dia memiliki
seorang pangeran?
Semua
terlambat, 2 hari setelah penghinaan pada bumi itu, raja datang mencari
pangeran. Warga nya menyambut kedatangan para petinggi mereka, dengan bangganya
seorang pria gagah bercerita tentang kejadian 2 hari lalu. Saat mereka merasa
bertingkah benar. Ratu memiliki perasaan buruk, raja melotot mendengar
kebodohan warganya. Para petinggi kerajaan yang selalu memutuskan perkara
merasa bodoh akan ilmu yang mereka bawa dan simpan.
Betapa
kagetnya warga desa akan identitas pangeran. Terkutuk memang semua nya, mereka
pantas untuk menyesal. Raja itu, ratu itu, para petinggi itu, bersama warga desa.
Sekarang negeri telah diliputi oleh rasa penyesalan. Menciptakan kutukan untuk
mereka sendiri. Kutukan yang akan selalu diturunkan saat mereka melahirkan
generasi baru. Kekeringan panjang tak dapat dihindari. Bahkan alam pun murka.
Wabah dimana-mana, terjadi pada bayi bayi suci. Raja yang dirasa bijak sudah
meninggalkan kerajaan bersama para pengawal. Entah siapa yang sudah murka.
Tuhan telah mengabulkan semuanya. Semesta mengikuti perintah-Nya. Kelaparan dan
kekeringan membuat seluruh penduduk negeri gosong terbakar. Setiap hari kutukan
membunuh seorang atau lebih, dan akan tetep terus begitu. Mungkin sampai warga
yang terkutuk itu habis.
Komentar
Posting Komentar