Pangeran Tampan


Negeri itu dipisahkan oleh dua ruang, istana dan desa. Keduanya memiliki ketetapan masing-masing bagi setiap penghuni. Tak satupun makhluk dapat melawan hukum alam. Seseorang  yang terlahir dalam istana haruslah tetap berada di istana, agar takdir berjalan sesuai aturannya begitupun seorang yang terlahir di desa. Semua akan berjalan sesuai rencana jika pemilik dan takdir tidak saling berhianat.  

Seorang pangeran haruslah menawan agar membuat semua wanita terpikat. Tapi itu hanya akan berlaku jika dia tetap tingal di dalam istana. Pangeran di negeri itu sudah hidup sesuai takdirnya. Dia menawan, bijaksana, dan cerdas. Terkenal dengan keramahan dan hati baik, pangeran juga seorang yang menyenangkan bagi para pengawal. Begitu indah takdir yg sudah ditetapkan Tuhan.

Pangeran terlahir dengan banyak keinginan dan ketidakpuasan. Dia selalu tenggelam dalam pencarian. Beranjak dewasa, dia merasa ilmu yang diajarkan di istana tidak seperti ilmu yang selalu dibayangkan. Entah karena tidak puas ataupun enggan untuk merasa, keduanya sulit untuk dibedakan. Pangeran merasa di luar istana akan banyak ilmu yang benar-benar ingin dia pelajari. Sebuah keinginan yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan istana, dengan alasan ingin belajar banyak hal dari rakyat. Namun, hanya pangeran yang benar-benar mengetahui alasan sehingga membuatnya meninggalkan takdir yang rekat menggantung di langit istana.

Tuhan Yang Maha Penyayang Dengan Agung menuliskan ketetapan yang begitu baik untuk pangeran. Pangeran sudah meninggalkan takdir yang selalu menggantung indah di langit langit istana. Sekarang, dia bertanggung jawab untuk menuliskan semuanya seorang diri. Untungnya pangeran masih memiliki hati dan wajah yang selaras. Sementara yang lain sudah tertinggal di balik gerbang istana.

Pangeran ragu karena tidak memiliki kemampuan untuk bertahan di desa. Dia merasa ilmu memang harus berada pada tempatnya. Ilmu yang dipelajari di istana memang hanya bisa dipergunakan di dalam istana. Sekarang pangeran sedang mencari cara untuk hidup. Bekerja sebagai mekanik sangatlah tidak mungkin, pengawalnya yang memiliki kemampuan tersebut. Membangun bangunan? dia tidak punya keterampilan. Menjadi seorang seniman? sangat sulit baginya untuk merasakan.

Ketampanan akan selalu menjadi keindahan di langit manapun. Ketampanan akan selalu menjadi lukisan yang menggantung di tembok beratap langit. Keindahan yang selalu pangeran bawa membantunya dalam mendapatkan pekerjaan. Dia diperkerjakan menjadi penjaga toko buah. Pemilik toko ingin pangeran menggunakan wajah tampannya untuk menarik beberapa pembeli, khususnya para wanita. Benar saja, penjualan buah meningkat. Bahkan, beberapa pria lebih memilih untuk membeli buah di toko yang pangeran jaga. 

Pangeran bukanlah seorang yang suka bermalas malasan. Dia seorang yang menyenangkan. Sudah setahun berada di desa dan belum berkenaan untuk kembali ke istana, tetap menjadi penjaga toko buah. Entah hal apa yang dia cari, sampai sampai waktu membawanya cukup jauh meninggalkan istana. Tidak ada warga yang mengetahui identitas pangeran. Tak satupun mengetahui bahwa mereka saling berbagi udara dengan anggota kerajaan.

Kewajiban seiisi negeri adalah untuk menyukai anggota kerajaan, tapi tidak ada ketetapan yang menyatakan bahwa mereka harus menyukai seorang penjaga toko buah. Pangeran yang selalu membawa ketampanannya sebagai bahan candaan dianggap sombong oleh sebagian warga desa, beberapa orang bahkan membecinya. Tapi tidak sekidit pula yang menyukai lelucon pangeran. Bukan maksud untuk merendahkan warga desa yang tentu tak seindah dirinya. Hanya saja pangeran sangat menyukai ketampanannya. Selain itu banyak wanita yang mendekati pangeran karena wajah tampan dan leluconnya, meski mereka enggan untuk lebih dekat dan berteman dengan pangeran. Apalagi menjalin sebuah hubungan.

Selama di istana, dia selalu dipuji akan pekerjaan yang diselesaikan dengan benar. Pangeran memang seorang yang benar saat bekerja. Namun, warga desa yang sering menampilkan paradoks enggan mengakui keberadaan pangeran. Mereka tidak sudi memberikan pujian kepada penjaga toko buah.

Sudah setahun pangeran menjalani hidup sebagai warga biasa, tanpa puja puji ataupun penghargaan. Kepekaannya pun bertambah, bahkan dia dapat mengetahui wajah dibalik topeng indah warganya. Pangeran dapat membedakan antara keperdulian dan keingintahuan. Dia dapat melihat wajah orang-orang dengan gambaran hati mereka masing-masing. Pangeran mulai berfikir tentang semua cinta yang dia terima di istana. Cinta yang mungkin saja hanya sebuah fatamorgana dalam kamera mainan anak-anak.

Orang bilang setiap lapisan awan pasti ada bidadari. Hal tersebut tepat untuk menggambarkan keberadaan wanita desa yang dijuluki primadona ini. Namanya Hjhj, seorang wanita yang sulit tersenyum. Namun tidak memengaruhi ataupun mengurangi kecantikannya. Wanita lain akan sering tersenyum untuk menambah kecantikan mereka. Tapi kita tidak akan benar benar tau apakah itu sebuah senyuman atau hanya kekuatan mereka dalam menganggat otot bagian mulutnya. Apapun itu, pria di negeri ini akan menganggap bahwa senyuman wanita merupakan kecantikan yang patut dinikmati.

Tapi, tidak semua pria berpendapat seperti itu. Gaston, pria yang cukup berkuasa, hanya akan melihat satu wanita. Seorang pria yang cukup dihormati dan memiliki banyak harta. Terkenal akan cintanya terhadap sang primadona berhati dingin. Hjhj memang banyak disukai para pria, bahkan kabar kecantikannya sampai ke istana. Sempat ingin dijadikan dayang-dayang, tapi ditolaknya dengan sopan permohonan tersebut. Rumor mengatakan bahwa Hjhj menolak karena akan dinikahi oleh Gaston. Warga desa sangat suka bercerita serta menambahkan beberapa kalimat agar sesuai dengan cerita yang diinginkan. Atau rumor itu dibuat oleh Gaston sendiri? Kalau benar, sungguh pria yang narsistik.

Pangeran pertama kali melihat sang primadona desa dari kejauhan, sedang membeli beberapa buah di toko lain. Dia bukan seorang yang perasa. Alih alih jatuh cinta karena kecantikan Hjhj, Pangeran malah memerhatikan sikap dingin wanita itu. Hjhj memang terkenal akan keengganannya untuk tersenyum. Dia hanya akan mengangguk sebagai rasa hormat saat bertemu orang lain. Beberapa berfikir bahwa itu adalah sebuah sikap yang sangat dingin. Tapi menurut pangeran, Hjhj menunjukkan prilaku tulus yang sesuai dengan hati nya. Bukannya paradoks sebagai topeng sopan santun.

Hari itu memang Hjhj sedang mencari toko buah untuk dijadikan pemasok. Dia seorang pemilik toko manisan yang cukup terkenal di desa. Hjhj mengolah beberapa buah dan sayur untuk dijadikan makanan tahan lama. Pemasok di tokonya ialah seorang kakek yang baru saja meniggal dunia 2 hari lalu. Oleh sebab itu, dia berencana mencari pengganti lain.

Takdir sudah menuliskan pangeran dan Hjhj untuk bertemu. Entah dimana berada, yang pasti ketetapan itu bukan milik pangeran. Hjhj memasuki toko buah yang pangeran jaga lalu menyapanya. Hanya sebuah sapaan sebagai sopan santun. Setelah melihat beberapa buah, dia meminta pangeran untuk menjadi pemasok di tokonya. Tentu saja pangeran senang, dia sudah membayangkan wajah pemilik toko jika mendengar berita tersebut. Wanita itu lekas pulang tanpa melanjutkan ke toko lain. Sedangkan pangeran yang sedang gembira dipenuhi tatapan kecemburuan para pedagang di sekitar tokonya.

Hari berikutnya, pangeran mengantarkan beberapa buah ke toko Hjhj. Dia disambut dengan hangat, tidak seperti hari pertama mereka bertemu. Segera dipindahkannya beberapa keranjang buah. Saat itu pula, seorang pria datang menyampiri Hjhj.

Ingat betul pangeran siapa pria itu. Salah satu pelanggannya, Gaston. Seorang yang cukup disegani bahkan digilai para wanita desa. Pelanggan pertama pangeran saat menjadi penjaga toko buah. Gaston hanya akan membeli apel saat berbelanja. Dia datang pada hari tertentu. Wanita desa bahkan tau kapan jadwal Gaston mengunjungi toko pangeran. Pada hari tersebut mereka bersolek dan mulai melakukan pementasan sandiwara. Beberapa wanita menjadi pembeli, sedangkan yang lain sibuk memilih barang di toko terdekat. Ada pula wanita yang hilir mudik di depan depan toko pangeran. Semua dilakukan untuk menarik perhatian Gaston. Sebelum dimulainya sandiwara, mereka akan bertanya secara arogan kepada pangeran. Saat penonton yang ditunggu tunggu tiba, kearoganan mereka tersembunyi di balik gaun cantik yang dikenakan.

Boleh juga Gaston tidak pernah termakan godaan. Ternyata karena si primadona. Namun, Hjhj tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap pria yang terhormat itu. Dibanding  wanita lain, Hjhj memang istimewa. Seisi negeri tau kalau Gaston sangat menyukainya. Kecuali orang yang tinggal di istana. Tentu saja, tidak semua berita dapat menembus kerapatan tembok istana.

Pangeran bergegas pulang, tidak ingin mengindahkan keduanya, khawatir rasa penasaran semakin membesar. Sebenernya dia ingin tau alasan yang membuat Hjhj tidak tertarik pada pria luar biasa seperti Gaston. Pangeran juga penasaran mengapa Gaston tidak pernah berpaling ke wanita lain yang sudah pasti akan menerimanya.

Ah benar, bahkan pangeran melupakan biaya yang seharusnya dia pinta. Sesaat ingin memasuki mobil, Hjhj menghampiri dan memberikan uang kepada pangeran. Wanita ini memang lebih ramah dari sebelumnya, bahkan lebih hangat terhadap pangeran dibanding Gaston.

Pangeran selalu ingin tau pemandangan yang terlihat oleh Gaston saat para wanita bersandiwara. Jika diumpamakan, panggung pementasan akan berlangsung saat Gaston membeli buah apel di toko pangeran. Pria itu bak penonton yang diagungkan, sedangkan pangeran seperti pesuruh di belakang panggung. Pangeran hanya akan melihat wajah para rubah, tak akan dia lihat penampakan depan panggung. Di lain tempat, Gaston sudah duduk manis menunggu pementasan. Kemudian rubah akan bertransformasi menjadi kucing berbulu tebal nan halus.

Pangeran sekarang sedang berbangga diri. Hjhj memperlakukannya lebih spesial dibanding Gaston seorang yang berkuasa. Entah sandiwara atau bukan, pangeran sudah seperti melayang saja. Bagai menyaksikan lakon aktris papan atas di bangku terdepan. Tapi, mengapa Hjhj dengan susah payah pentas di depan tamu yang tak berarti layaknya pangeran?

Hjhj bukan seorang yang suka memalsukan tindakan. Dia memang lebih bersikap manis, karena wanita itu menyukai pangeran. Ah pantas saja dia lebih hangat dibanding sebelumnya. Sejak kapan Hjhj menyukai pangeran? Tidak mungkin pada hari pertama mereka bertemu bukan?

Pangeran tidak punya alasan untuk tidak menyukai Hjhj, seorang wanita yang berbicara hangat tanpa pamrih. Tentu saja, primadona desa yang tulus bahkan memperlakukannya secara adil. Pertama kali pangeran diperlakukan baik oleh seorang wanita. Bahkan saat pertemuan kedua, dia sudah merasa teristimewa. Tak pernah menyangka, perlakuan hangat didapatkannya di luar istana sebagai seorang penjaga toko buah.

Setiap minggu keduanya selalu bertemu. Pangeran akan datang untuk mengantarkan buah. Beberapa bulan pertama keduanya sangat canggung. Mereka hanya saling melempar senyuman tanpa berkata sedikit pun. Pangeran sudah benar-benar masuk di kehidupan Hjhj. Dia membuat wanita itu tersenyum walau dengan canggung. Tak ada seorang yang pernah melihat senyumannya bahkan Gaston sekali pun. Semakin lebar senyuman itu, menambah debaran di hati pangeran.

Insting seorang pria yang terkubur dalam diri pangeran muncul, tak segan ia mengikuti. Ingin selalu dia bertemu Hjhj yang sudah menjadi pujaan hati. Setiap hari, diantarkannya beberapa keranjang buah. Padahal bisa saja pangeran mengantarkan buah setiap 3 kali seminggu untuk menghemat tenaga. Tapi, dia menjalani ide yang membuatnya dapat berkunjung setiap hari ke toko Hjhj. Bahkan kalau perlu pangeran hanya akan mengantarkan satu buah setiap detiknya. Agar tidak terlewat sedikit pun waktu untuk tidak melihat Hjhj. 

Sore hari, keduanya selalu berbincang dengan dalih menjalin kerjasama. Waktu dimana pangeran mengakhiri harinya sebagai penjaga toko buah. Hjhj bahkan selalu menunggu di depan toko. Keputusan tepat agar lebih lama menghabiskan waktu berdua di ujung hari.

Pangeran dan Hjhj seperti sedang melintasi awan sambil berpegangan tangan. Semakin tinggi makin melayang, tak terjangkau. Entah apa yang menjadi topik pembicaraan, mereka selalu bercerita hingga langit biru padam. Waktu petang menjadi milik keduanya. Berjalan di bawah langit desa tanpa arah, melihat matahari terbenam dari berbagai sudut pandang. Terkadang dinikmati sisa hangat matahari di pelabuhan, pantai, taman, bukit, ladang, sawah, gardu, atau jalan setapak. Berjalan hingga matahari tak lagi menghangatkan bumi, waktu keduanya untuk berpisah.

Secepat hangat berganti dingin saat malam, rumor keji menyebar tanpa tau asal usulnya. Kecemburuan mendasari hal keji terjadi. Para wanita munafik menjadi lebih serakah. Sebelumnya hanya menyukai lelucon dan wajah tampan pangeran. Tapi sekarang mereka ingin diri pangeran seutuhnya. Tak ingin ada wanita lain yang mendekati bonekanya. Boneka kesayangan yang mereka mainkan secara diam diam karna malu pada dunia akan kelusuhannya.

Tak hanya wanita munafik yang menghendaki kehancuran pangeran. Gaston, seorang pria yang berkuasa, telah merubah cinta yang dia jaga selama bertahun tahun menjadi sebuah ambisi. Ambisi untuk memiliki Hjhj. Hatinya yang penuh cinta dikuasai rasa cemburu dan dengki terhadap pangeran.

Para pedagang yang merasa tercurangi seperti mendapat kekuatan untuk menyalahkan pangeran yang sedang menjadi issue di setiap percakapan warga. Warga desa memang mengerikan, mereka orang-orang yang berani maju untuk mengambil alih paksa sesuatu hanya demi uang. Padahal keahlian pun tak punya. Warga desa bersama kecemburuan mereka telah membangun rumor hanya untuk memuaskan semua sifat keji dan melampiaskannya kepada pangeran.

Tanpa tau rumor yang sedang menghina dirinya, pangeran berencana melakukan perjalanan bersama Hjhj ke bukit seberang sungai yang terletak di bagian selatan desa. Berbekal manisan, tak lupa keduanya memasang papan pemberitahuan tutup di depan toko masing-masing. Hjhj bersolek dan memakai gaun yang paling cantik, bahkan dia menempatkan bandana di atas kepala. Rambutnya diikat tidak terlalu kencang dan disematkan ke samping, sangat terlihat anggun. Terlebih lagi pangeran, ingin rasa nya dia pulang ke istana untuk mengambil kostum kerajaan dengan banyak lencana emas di bagian pundak dan dadanya. Tapi dia hanya bisa  memakai kaus terbaik hari ini, bahkan kemeja pun ia tak punya.

Melihat kedua toko yang tutup, para pendengki semakin menjadi-jadi. Entah rumor jahat apa yang sudah mereka bangun, sampai sampai memutuskan untuk menghukum gantung pangeran. Di negeri ini, semudah itukah mereka memutuskan sebuah perkara hukum? Obor obor api dengki menyala, raung raung kecewa mengeras. Langkah kaki hina menghentak bumi. Mereka hendak melampiaskan semua kekecewaan dan ketidakpuasan akan dunia kepada pangeran. Memusnahkan pangeran akan membuat diri mereka terselamatkan dari kesalahan. Orang macam apa yang dapat berfikir seperti itu!.

Pangeran dan Hjhj melakukan perjalanan panjang, menuju bukit sebagai tujuan mereka. Sesekali beristirahat di bawah pohon  rindang dan memakan beberapa bekal. Selama setahun, baru kali ini pangeran sedih karena tak memiliki apapun. Tak tega dia melihat Hjhj berjalan kaki sejauh ini. Sebenarnya, Hjhj seorang yang kaya dan sudah tentu memiliki banyak kuda. Tapi, tak ingin dia menodai harga diri pangeran karena penawaran itu.

Sepanjang perjalanan mereka hanya saling melempar pertanyaan. Kedua insan sedang mendalami masing-masing pikiran lawan jenisnya.

“Kenapa kamu tidak melanjutkan pekerjaan dengan cucu kakek?”  Ungkap pangeran.

“Buah yang dijual di tokonya tidak sesegar saat kakek masih hidup. Kurasa kakek tidak pernah mengajarkan ilmu bertani pada cucuya. Ilmu dan cintanya tidak dititipkan kepada sang cucu, maka itu harus mencari pemasok lain dengan buah yang segar”. Jawab Hjhj.

“Kenapa selalu buat lelucon dengan membawa ketampanan?” Hjhj balas bertanya.

“Di dunia ini banyak nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadaku. Aku baru sadar setahun yang lalu. Hanya saja beberapa nikmat hilang karena sebab yang tidak dapat aku ceritakan. Tapi tidak semua nikmat dicabut oleh Tuhan ku. Salah satunya ketampanan ini, bahkan sudah kudapatkan saat ruh ku ditiup, tanpa harus bersusah payah aku mendapatkannya. Nikmat yang begitu sempurna, tanpa campur tangan manusia sedikitpun. Aku bahkan mendapat pekerjaan karena wajah tampan ini. Orang lain mungkin akan menganggap aku orang yang sombong, mereka membuat opini sendiri tentang leluconku. Padahal, semua adalah bentuk rasa syukurku terhadap nikmat Tuhan”. Tau betul pangeran bahwa memang wajah tampan yang membuat dia dapat bertahan di desa. Walaupun harus membayar dengan banyak kepalsuan orang sekitarnya.

Kembali pangeran bertanya “kenapa kamu tidak suka Gaston? Menurutku dia seorang yang gagah, kaya, berwibawa, bahkan baik”.

“Sepertinya dia tidak benar-benar menyukaiku. Bukan mau menghakimi perasaan orang lain. Tapi aku percaya dengan apa yang aku rasakan. Rasa cinta gaston yang sering diceritakan oleh warga desa, terasa seperti ambisi bagiku. Ambisi yang dapat menjadikannya monster dengan penuh kesombongan. Ah maafkan, karena sudah menghakimi. Aku seorang yang menghindari konflik,  mempercayai apa yang aku rasakan. Menurutku lebih baik menghindari pria berambisius itu. Untung nya hati mengikuti apa yang aku kehendaki. Walaupun selama bertahun-tahun Gaston sangat baik, tapi aku tidak kunjung luluh”.

Takjub pangeran dengan jawaban Hjhj. Dia mementingkan ketulusan terdalam yang memang hanya bisa dirasa oleh beberapa orang saja. Lebih tepatnya, hanya bisa dirasa oleh orang-orang yang bersedia merasakan.

Kembali pangeran bertanya. “ kenapa tidak pernah senyum kepada orang  lain?”.

“Aku tidak pernah tau hati manusia. Menurutku senyuman hanya pantas untuk orang-orang yang tulus saja. Dari pada memberikan ke orang yang salah, aku lebih memilih untuk tidak memberikan senyuman kepada siapapun”. Jawab Hjhj

“Kalau memberikan senyuman pada orang yang tulus, aku akan sangat bersyukur. Bukankah seorang yang tulus tidak berharap penghargaan dari siapapun? Aku hanya sebisa mungkin bersikap adil pada orang yang ditemui, karena aku tidak benar benar tau apa isi hati mereka”.

Kenyamanan membuat keduanya semakin akrab. Sebelumnya, pangeran tidak pernah tahan saat berbicara dengan wanita. Sekarang, dia malah berharap waktu berjalan perlahan. Wanita desa selalu mengibas ngibaskan rambut saat berbicara. Walau pun tidak semuanya. Hanya saja, wanita anggun yang tidak mengibaskan rambut enggan berbicara pada pangeran. Pangeran tidak menyangka akan ada wanita seperti Hjhj. Seorang yang berbicara dengan penuh kelapangan tanpa mengibas ngibaskan rambut. Pangeran telah jatuh cinta.

Di tempat lain, para warga keji sedang mencari keberadaan pangeran dan Hjhj. Mereka sibuk dengan celotehan serta antusias membenarkan  perkataan satu sama lain. Seolah-olah sedang megupas sebuah jeruk untuk memakannya secara arogan.

Kebencian semakin menyebar, para wanita mengunjing bahwa pangeran adalah seorang misoginik, para pria memurkai kesombongan pangeran. Hina sekali tuduhan mereka. Gaston yang dianggap bijak, telah tenggelam dalam kecemburuan yang melahap kasih sayang menjadi ambisi hina.

Sementara, pangeran dan Hjhj tetap menikmati keindahan petang. Tanpa tahu kebencian dan kepalsuan yang ditebar warga desa. Sekarang, keduanya memutuskan untuk kembali. Mereka berencana menikmati sisa keindahan petang di perjalanan. Melihat wajah matahari dari berbagai sudut pandang. Matahari bergerak turun seiring dengan langkah kaki yang menuruni perbukitan. Berjalan selaras bersama bumi yang mengintari orbitnya.

Bersama semua harmoni tersebut, di belahan bumi lain, kejahatan sedang mendekati keduanya. Menentang semua kebaikan. Warga desa dengan tega memutuskan hukuman gantung kepada pangeran. Kemanusiaa  mereka sudah terbakar oleh api cemburu, dengki, juga ambisi. Menjadikannya makhluk jahat melebihi setan. Entah hukum macam apa yang berlaku di desa ini, sampai sampai mudah memutuskan perkara hanya dengan musyawarah berdasarkan  sebuah rumor bukan fakta.

Raja di negeri ini cukup bijak, tapi tidak ada keadilan dalam dirinya. Di istana, musyawarah hukum akan dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Mereka akan menjalankannya berdasarkan bukti bukan rumor. Musyawarah dengan pikiran dan kebijakan tanpa tertutup dengki.  Perkara yang diputuskan oleh seorang yang benar dalam ilmu dan tindakan.

Sedangkan di desa, sebuah perkara  diputuskan oleh orang-orang yang dipenuhi rasa dengki. Hukum istana yang agung dan benar tidak sampai di kehidupan semua warganya. Kerapatan dinding istana menjadi penyebab kebaikan sulit sampai ke warga desa. Ironi memang, anggota keluarga kerajaan tercinta akan menanggung kebodohan warga akibat ketidakadilan raja.

Entah hal apa yang membuat pangeran menerima takdir yang mengerikan itu. Apakah karena penghianatan pada takdir baik di istana? atau mungkin karena pangeran tetap menjadi penjaga toko buah walau sudah setahun keluar dari istana dan tidak kunjung kembali. Sehingga dia tetap dihina oleh rakyatnya yang begitu bodoh. 

Memasuki desa yang terkutuk, pangeran dan Hjhh dipertemukan beribu pasang mata. Warga desa membawa obor bergema hina. Menimpuk tomat bahkan batu ke arah mereka. Sang pendekar setan maju dengan arogan menyeret pangeran. Gaston seolah berubah menjadi seekor kecoak besar. Jerit isak Hjhj tak terdengar, tertutup raungan kejahatan para iblis desa yang sedang menonton. Tak bisa dijelaskan peristiwa hina menjijikan, menodai bumi dan seiisinya. Peristiwa yang sangat memalukan, termakan kebodohan. Pangeran pun meninggal di atas tali kusam.

Desa itu menjadi terkutuk akibat ulah warganya. Hjhj meratapi kepergian pangeran tanpa bisa menerima semua alasan konyol warga desa. Tak ada dari mereka yang merasa bersalah. Pemilik toko memberikan semua barang pangeran pada Hjhj. Dimasukannya ke dalam karung bekas buah. Sehina itukah pangeran bahkan di mata pemilik toko yang mendapat banyak uang dari hasil kerjanya? Hjhj sangat murung, enggan dia beraktifitas seperti biasa. Keluar melihat desa pun dia muak. Lebih muak dari sebelumnya.

Sekarang, dia hanya dapat membaca setiap halaman buku harian yang pangeran tinggalkan

Aku begitu bersyukur karena Tuhan mempercayakan ini, hanya itu saja. Aku tidak mengerti mengapa kalian berkata seperti itu. Padahal aku hanya memuji karunia Tuhan yang memang seharusnya dipuji. Aku masih belum menemukan apa yang ingin ku cari. Bahkan tidak tau sebenernya apa yang dicari. Apa aku sudah betindak bodoh? Keluar istana tanpa mengetahui tujuanku. Aku merasa menyesal meningggal kan istana tanpa alasan. Sudah setahun aku hidup belum ada jawaban atas pencaharianku, apa karena aku kurang berusaha? Aku banyak mempelari hal disini, tapi tetap tidak menemukan jawaban. Apakah karena aku kurang berusaha dan melihat? Selama setahun tak pernah dikunjungi? Kenapa? Apa karena terlalu percaya? Atau malah senang aku tidak berada di sekitar mereka? Ah mungkin mereka lupa kalau pernah memberi ijin pada pangeran, lupa kalau ada anggota kerajaan yang meninggalkan istana satu tahun yang lalu. Memang banyak hal yang mesti diurus.

Meronta makin Hjhj menemukan fakta kalau pria itu adalah seorang pangeran. Setiap halaman membuat dia semakin terisak.

Ku rasa sudah menemukan apa yang menjadi pencaharianku. Sedih rasanya, kalau saja selama setahun lebih berkembang, pasti aku dalam keadaan terbaik saat bertemu dia. Aku bertekat membawa nya ke istana, kan ku jadikan putriku. Besok kami akan bersusah payah untuk melihat keindahan bumi. Bukit dimana dapat melihat bendera istana. hari berikutnya, kan ku ajak dia ke istana dan memandang bukit itu sambil bernoltalgia.

Setelah membaca buku harian pangeran, Hjhj sangat menyesal. Dia berandai kalau saja mereka dapat dipertemukan di istana. Kalau saja dia tidak menolak permintaan kerajaan saat itu. Mungkin mereka akan hidup bahagia tanpa harus memerdulikan warga desa yang keji.

Kemana anggota kerajaan lain? Selama setahun, apa raja telah lupa kalau dia memiliki seorang pangeran?

Semua terlambat, 2 hari setelah penghinaan pada bumi itu, raja datang mencari pangeran. Warga nya menyambut kedatangan para petinggi mereka, dengan bangganya seorang pria gagah bercerita tentang kejadian 2 hari lalu. Saat mereka merasa bertingkah benar. Ratu memiliki perasaan buruk, raja melotot mendengar kebodohan warganya. Para petinggi kerajaan yang selalu memutuskan perkara merasa bodoh akan ilmu yang mereka bawa dan simpan.

Betapa kagetnya warga desa akan identitas pangeran. Terkutuk memang semua nya, mereka pantas untuk menyesal. Raja itu, ratu itu, para petinggi itu, bersama warga desa. Sekarang negeri telah diliputi oleh rasa penyesalan. Menciptakan kutukan untuk mereka sendiri. Kutukan yang akan selalu diturunkan saat mereka melahirkan generasi baru. Kekeringan panjang tak dapat dihindari. Bahkan alam pun murka. Wabah dimana-mana, terjadi pada bayi bayi suci. Raja yang dirasa bijak sudah meninggalkan kerajaan bersama para pengawal. Entah siapa yang sudah murka. Tuhan telah mengabulkan semuanya. Semesta mengikuti perintah-Nya. Kelaparan dan kekeringan membuat seluruh penduduk negeri gosong terbakar. Setiap hari kutukan membunuh seorang atau lebih, dan akan tetep terus begitu. Mungkin sampai warga yang terkutuk itu habis.

Komentar