Saluran televisi


Kualitas pendidikan yang di dapat orang desa jauh tertinggal dibandingkan orang kota. Acara televisi di kota sama dengan yang diputar di desa. Orang kota yang sudah mendapat kualitas pendidikan yang baik, dapat menyaring tontonan yang pantas ataupun tidak. Tapi bagaimana dengan orang desa yang tidak memiliki pengetahuan yang sama seperti mereka? Begitulah cara orang kota membuat warga desa menjadi kelompok yang kampungan.

Aku tau bahwa semua acara di televisi merupakan buatan orang kota. Entah penduduk kota asli atau warga desa yang menjelma menjadi orang kota. Aku tau bahwa di kota banyak orang pintar, namun sayangnya mereka membuat yang lain menjadi bodoh. Banyak warga desa yang menjadi korban kebodohan dari hasil kerja otak pintar mereka.

Hari-hariku diisi dengan duduk diam tenang sambil menonton televisi. Sebelum sekolah atau sepulang sekolah selalu kuhabiskan waktu untuk berprilaku manis di depan tv, baik duduk ataupun tiduran. Sampai-sampai ku hafal urutan acara yang akan tayang. Saat itu aku berumur 14 tahun, aku selalu menonton saluran lokal. Sinetron, reality show, kartun, gosip selalu menghiasi hari-hariku, bahkan kalau bosan datang, aku tetap setia di depan tv untuk hanya menonton iklan saja.

Saluran tv kabel sedang ramai pada saat itu, ibuku tidak ingin kalah dengan para tetangga di komplek perumahan kami. Salurannya semakin banyak, sempat terfikir bahwa mungkin aku akan menghabiskan waktu di depan tv melebihi saat sebelumnya. Kalau saja Tuhan memberikan waktu lebih lama dari 24 jam, akan kuhabiskan sepenuhnya di depan tv. Mungkin kamu berfikir tv kabel itu akan mendatangkan hal buruk. Awalnya aku pun berfikir seperti itu. Saluran yang bertambah banyak lebih memperkaya pilihanku dan akan membuatku ingin berlama lama memanjakan mata dan khalayan di depan televisi.

Hari itu setelah pemasangan tv kabel,  aku duduk seperti biasa. Badan yang lurus menghadap televisi. Aku mulai menonton acara luar negri. Dapat langsung dirasakan perbedaaan tayangan mereka dengan apa yang ku tonton di saluran lokal selama ini. Tayangan yang menunjukkanku akan keberadaan dunia. Memperlihatkan keberagaman manusia saat bersaing dalam mencari makan. Mereka seperti memperlihatkan warna warna dunia dan kebebasan adalah hak untuk memilih warna seperti apa yang aku inginkan. Tv kabel yang memberitahu bahwa seorang harus punya mimpi jika ingin hidup.

Sebelumnya, aku ingin menjadi pegawai kantoran. Kebanyakan teman-temanku juga seperti itu. Kurasa karena kami menonton tayangan yang sama. Sinetron adalah kiblat kami, tayangannya menunjukkan bahwa kebahagiaan ialah hidup sebagai pegawai yang kaya dan cantik. Atau hanya sekedar menjadi perempuan tomboi agar membuat pegawai kaya jatuh cinta.

Sekarang aku mulai berfikir untuk tidak menjadi seorang pegawai kantoran ataupun perempuan tomboi, walaupun aku belum tau persis ingin menjadi apa. Aku mulai melihat hidup seperti sebuah jalan dengan banyak terowongan. Jika berada di dalam terowongan yang menakutkan dan aku tidak bergerak menuju cahaya luar, maka jalan selanjutnya tidak akan pernah dilalui. Tujuan pun hanya sebuah khayalan.

Sebelumnya, jika menumui terowongan dalam hidup, seperi rasa sakit, terasing, kegagalan ataupun penyesalan, aku hanya akan diam seperti terkunci di dalam terowongan yang terbuka dan enggan untuk keluar mengikuti cahaya luar. Aku sudah lebih penasaran dengan dunia luar yang mereka perlihatkan. Lebih siap akan terowongan serta jalan setelahnya. Aku akan terus berjalan sampai menemui cahayaku sendiri.

Saat ini aku akan terus tumbuh bersama tv. Orang tua ku bukan orang yang suka mengajarkan anaknya, bukan berarti tidak sayang. Kurasa mereka hanya tidak mampu untuk menyisihkan waktu untuk membantuku memahami dunia. Televisi itu, saluran buatan orang dari negara lain yang telah mempertlihatkan dunia luar, dan mengubah cara sudut pandang ku akan dunia.

Seandainya orang kota disini membuat tayangan yang menyetuh, pasti akan membuat  warga desa lebih bersyukur dan termotivasi untuk dapat meraih mimpi seperti yang mereka lakukan. Karena di saluran negri lain, orang kota memperlihatkan perjuangannya agar mendapatkan kualitas yang memang layak untuk mereka. Walaupun mereka berkerja seperti kuda, yang bekerja keras tanpa tau rasa.

END

Komentar