pubertas kedua


Iko lebih memilih untuk melihat dunia dari satu sudut pandang. Pria paruh baya ini selalu melihat dari sisi positif. Mungkin akan terlihat naif oleh orang lain, tapi dia menyukai cara itu. Dia selalu menekan sisi negatif yang muncul dalam pikirannya dan disimpan dalam diam agar bisa mendapatkan sudut pandang yang disuka. Iko menjalani hidup dengan selalu membawa energi positif dalam dirinya. Saat tertimpa tertimpah musibah, dia selalu percaya ada sisi lain di balik kejadian buruk. Iko bukan seorang yang melarat atau hidup dalam kesederhanaan. Tidak, bukan orang rendahan seperti itu. Dia tumbuh besar sebagai pengusaha  kaya raya. Wajah Iko sepadan dengan kekayaannya. Orang bilang, wajah seseorang akan bersinar sebanyak emas yang dimiliki. Entah karena berapa mahal perawatan wajah yang sudah dia lakukan atau seberapa bergizi makanan yang dikonsumsi, aura yang terpancar dalam hati Iko, membuat pria paruh baya ini memiliki wajah cerah walaupun tanpa bedak bayi seperti yang ku gunakan.

Energi positif dan kebaikan hati Iko merupakan anugrah. Manusia dianugrahi kedua sisi oleh Tuhan. Kali ini Iko tidak bisa menolak sifat manusia dalam dirinya, yaitu sebuah nafsu dan hasrat. Hal yang manusiawi, ketika sifat itu tidak dapat dibungkam saat itulah cerita ini dimulai.

Rasa percaya akan cinta kepada sang istri selalu ia jaga. Dia hanya pernah dan akan jatuh cinta pada satu wanita. Tapi saat ini, keinginan akan cinta lain dapat ia rasakan. Rasa yang sama saat pertama kali jatuh cinta kepada sang istri. Mata Iko menyala, hati nya bergetar saat melihat seorang gadis berumur setengah dari yang dia punya. Dia merasakan hal yang sama ketika berusia 30 tahunan. Sudah 10 tahun menikah dengan cinta yang selalu ia kagumi. Istri dengan kecantikan paras dan hati. Keharmonisan selalu melekat dalam rumah tangga mereka. Tapi saat mata pria paruh baya tersebut bertemu dengan mata seorang gadis, semua luntur. Cinta yang baru sedang membuka kelopaknya.

Saat itu Iko sedang melakukan perjalanan bisnis dan beristirahat di sebuah cafe, sambil meneguk kopi panas Iko suka memperhatikan orang-orang halulalang. Dia suka melihat aktifitas orang lain, tempat di samping jendela adalah tempat favorit nya, seakan menonton film dalam layar berjalan. Matanya menangkap sepasang anak muda yang sedang berjalan dari kejauhan, matanya terpaku pada gadis itu, Soji namanya. Iko tidak bisa melepaskan pandangannya.

Soji itu merasa seseorang sedang memandangnya. Seperti lukisan dalam bingkai, wajah Iko yang cerah terlihat cocok dengan frame cafe saat Soji tepat melewati tempat tersebut. Soji yang hendak memasuki cafe terus memandang Iko, begitupun sebaliknya. Mata mereka berbinar, bola mata yang begitu canggung saat keduanya bertatapan.

Soji bersama dengan temannya memasuki kafe. Iko tidak bisa mengalihkan pandangannya, bahkan sempat terlintas keinginan untuk berkenalan dengan gadis itu. Untung saja pikiran Iko segera kembali, akal sehat menahannya. Iko mulai berfikir tentang orang sekitar, yang mungkin akan menggunjingnya jika melakukan hal tersebut. Selain itu dia mempertimbangkan lelaki yang berada bersama wanita tersebut.
“Mungkin itu pacarnya” pikir Iko

Keinginan untuk bertemu gadis yang baru dia lihat, tertanam baik dalam hati Iko. Sebuah keinginan yang membuat dia malu walau hanya diteriakkan dalam hati. Hal yang tertanam tersebut menganung pada semesta, bahkan terdengar oleh semesta. Secara ajaib semesta mengabulkan keinginan Iko. Di sebuah toko buku, dia bertemu gadis yang sudah menjadi pujaan hatinya tersebut. Pantas saja Iko jatuh cinta pada gadis ini. Soji, seorang gadis yang memiliki tekat kuat akan apa yang menjadi rencananya. Walaupun bukan seorang dengan pendidikan tinggi atau kekayaan yang berlimpah. Dia dapat mendirikan toko buku yang populer di daerah ini. Toko buku yang tidak membosankan. Dia membuatnya seperti taman, taman bacaan dengan banyak semangat disana. Gadis ini memiliki sifat yang sama dengan Iko, sama-sama memilih berjalan dengan sisi positif. Mungkin ini yang membuat mereka terkoneksi.

Hasrat Iko yang sempat tertunda membuat pria itu mendatangi sang gadis yang sedang berdiri di meja kasir, terlihat cantik dengan apron yang dipakai. Mata mereka bertemu untuk yang kedua kalinya, sang gadis tersenyum. Dunia Iko runtuh, senyuman itu seperti gempa yang memporak porandakan memorinya  akan sang istri dan telah membuat kekacauan pada cinta sebelumnya.
Dia minta diperlihatkan buku klasik untuk referensi membaca sebagai alasan agar bisa berbicara dengan Soji. Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menjadi dekat. Benar saja kesamaan takdir membawa mereka kepada hubungan yang lebih akrab bahkan hanya beberapa jam setelah pertemuan itu.

Banyak persamaan diantara keduanya, mungkin kamu berfikir seperti memiliki jenis bacaan yang sama atau selera musik yang sama. Mereka sangat bertolak belakang jika kamu tau. Soji gadis yang setimental dan menyukai bacaan romantis. Sedangkan Iko sangat realistis dan lebih menyukai jenis bacaan yang berdasarkan fakta. Selera musik mereka pun berbeda, tentu saja, mereka berbeda generasi. Hal yang membuat keduanya terkoneksi terletak jauh dalam pikiran mereka.

Sebuah novel yang bagus tidak akan disukai oleh semua orang. Beberapa memang cocok dengan alur yang disajikan, tetapi beberapa yang lain tidak setuju dengan alur yang ada di dalam novel. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing dan akan menciptakan selera serta pemikiran yang berbeda. Iko dan Soji adalah orang yang tau betul alasan mengapa mereka menyukai sesuatu dan merasa paham jika ada seseorang yang menyukai hal lain. Dengan pemahaman tersebut kedua nya merupakan orang yang menghargai sesama, menghormati setiap pendapat dan selera sekitar. Mereka tidak pernah sekalipun memaksakan kehendak untuk membuat orang lain menyukai sesuatu yang disukainya. Karena setiap orang memiliki hati yang terbentuk oleh pengalaman masing-masing.

Iko sering berkunjung ke kota yang jauh dari kediamannya bersama sang istri. Hal ini dikarenakan perjalanan bisnis yang harus diselesaikan dalam beberapa bulan kedepan. Selain itu sekarang kota itu terlihat istimewa. Sebuah kota yang memiliki daya tarik lain selain alasan perkerjaan karena disitulah Soji, cinta kedua nya bernaung. Iko tidak pernah berniat untuk memberitahu sang gadis tentang istrinya. Hasrat dalam diri Iko menguasai tubuh bahkan memori akan sang istri ditekan dalam diam.

Mungkin kamu akan meyalahkan sang pria yang tidak jujur kepada sang gadis. Di sisi lain, Soji yang dapat menilai secara fisik, tau betul kalau Iko sudah berumur bahkan mungkin seumuran ayahnya. Soji tidak ingin tau umur Iko, bahkan tidak ingin pria paruh baya tersebut mengetahui umur nya. Dia takut untuk mengetahui fakta, bahwa kenyataannya mereka terpaut umur yang sangat jauh. Takut logika akan menguasinya lantas menjauhi Iko dengan alasan norma atau aturan dalam berpasangan. Soji menanam di kedalaman semua fakta tentang dirinya dan berharap Iko melakukan hal yang sama. Saat ini bagi Soji fakta seperti umur, status, ataupun pekerjaan hanya sebuah dokumen saja. Dia tidak ingin sakit jika mengetahui identitas pria yang terpaut jauh umurnya tersebut. Khawatir akan banyaknya perbedaan yang mereka miliki dan membuat mereka tidak bisa bersama. Seperti perbedaan umur, perbedaan agama, perbedaan tingkat pendidikan, bahkan perbedaan status pernikahan. Saat ini yang Soji tau, dia telah menemukan seseorang dengan binar mata persis seperti miliknya ketika mereka bertatapan.

Keduanya semakin akrab bahkan hati mereka semakin berdebar saat bertemu. Sekarang mereka selalu menghabiskan waktu makan bersama. Tawa bahagia selalu menghias disetiap pertemuan, berdampingan dengan rasa takut yang disembunyikan. Ketakutan akan fakta yang disimpan baik dalam kotak yang selalu mereka tutup. Kotak yang jika dibuka akan memunculkan perpisahan, bahkan selalu mengikuti pertemuan mereka, dan dijaga agar tetap tertutup rapat. Mereka senang dengan ketidaktauan yang semu. Padahal keduanya tau betul apa isi dari kotak tersebut.

Sebenarnya mereka hanya tinggal menunggu sampai kotak membuka dengan sendirinya. Perasaan yang dimiliki Iko dan Soji tumbuh dengan baik bersamaan dengan rasa kecemasan bahkan rasa ingin memiliki diantara keduanya semakin besar. Keserakahan mereka semakin menjadi jadi. Semua iblis dalam hati mereka yang dengan sangat baik dan bengis menyimpan kotak sedang bergembira. Melihat kedua insan sedang menuju dunia luar dan melewati batas.

Iko masih memiliki rasa takut. Rasa yang selama ini dianggap payah bahkan sebagian orang berfikir untuk tidak memilikinya. Namun, penyelamat pria tersebut dari teriakan iblis yang terus menjaga kotaknya ialah rasa takut. Bukan rasa kasih sayang akan keluarga dan istri yang bisa mempersempit keinginan untuk bersama sang gadis. Bahkan bukan sifat dewasa atau memori tentang keluarga yang dapat memotong alasan mereka untuk bersama. Saat ini rasa takut yang menyelamatkan pria paruh baya tersebut.

“Kamu tidak pernah penasaran dengan latar belakang ku?” Tanya Iko kepada gadis yang sekarang menjadi prioritas utamanya. “Kamu tidak pernah berfikir umur ku atau status ku?” akhirnya pertanyaan yang selama ini ingin Soji hindari keluar berkat dorongan rasa takut dalam diri Iko.

“Karena kamu tidak pernah memberi tahu, aku pun tidak akan pernah bertanya tentang hal yang seperti itu”. Jawab Soji dengan tatapan kosong.

“Bagaimana kalau sebenarnya kita banyak perbedaan? Tentang umur kita? Tentang statusku?” Tanya Iko

“Kalau begitu seharusnya kamu menyimpan fakta itu rapat-rapat”. Jawaban dingin itu keluar dari mulut yang paling hangat.

Kini mereka saling manatap dalam.

“Aku sudah menikah”, kata itu mengalir bak larva yang siap mengahanguskan semua tanaman.
Dunia rasanya runtuh, iblis-iblis yang selama ini menjaga kotak tersebut terpelangting akibat letusan dan bertebrangan dalam hati keduanya. Hati mereka porak poranda karena kotak telah terbuka. 
Semua rasa keingin tahuan yang selama ini Soji kekang telah berubah menjadi rasa kecewa dan menjadi air mata.

“Kamu telah membukanya, kotak berisi dokumen dokumen. Dimana secara jelas tertulis semua perbedaan kita. Sesuatu yang seharusnya kita simpan jika ingin bersama. Kamu harus kembali ke tempat dimana semua dokumen itu cocok dengan milik orang-orang sebelumnya. Sesuatu yang tertulis sempurna sebagai standar untuk dapat diterima dalam masyarakat. Dokumen yang setara dengan milik istri dan teman temanmu. Sesuatu yang sangat berbeda dengan milikku yang kusam.

Kedua nya memutuskan berpisah, Soji tetap berada di lingkarannya dengan tetap menjaga rasa penasaran dan kecemasan yang tidak akan pernah dia kekang lagi. Sedangkan Iko dengan pikiran kosong kembali kepada keluarganya, memasuki lingkaran yang sebelumnya sudah dia buat.

Keduanya sadar bahwa seharusnya dua sudut pandang harus dilihat secara adil. Tidak hanya melihat dari sisi positif saja, tapi juga penting melihat sesuatu dari sisi negatifnya. Mereka tidak lagi menyimpan sebuah kotak hanya untuk membuat semua nya baik-baik saja.

END

Komentar