Tentang mereka yang selalu menghalang jalanku menuju
kebenaran.
Mereka yang berhati baik
Berwajah indah
Berparas jantan
Dengan segudang bintang di mata dan perkataannya
Bagaimana bisa makhluk suci berhati baik menghalangi jalanku
menuju kebenaran
Siapa mereka, Benarkah kebaikan yang mereka berikan
merupakan surga, Atau neraka?
Dunia mereka, samakah dengan dunia ku, Apakah surga mereka
sama dengan surgaku?
Bagaimana kalau mereka membalikkan semuanya?
Aku sangat suka tidur. Saat tidur
tidak ada yang perlu dicemaskan ataupun dikhawatirkan. Aku tidak perlu
memikirkan dosa atau kesalahan yang membuat diriku menjalani hari dengan
kehati-hatian dan ketakutan. Saat kita tidak mengetahui suatu hal bahkan jika
itu perbuatan dosa, Tuhan akan memaafkan kita. Dan disaat tidurlah aku tidak
mengetahui apa-apa, begitu terasa tenang.
Namun, malam itu semua berbeda. Menjelang
tidur, aku terbiasa menghabiskan waktuku dengan membayangkan hari esok yang
akan lebih indah atau dengan merenungkan hari yang sudah kujalani dengan penuh
rasa kecemasan. Selalu kutunggu momen kehilangan kesadaran sesaat sebelum
tidur. Aku akan tidur pukul 9, entah mengantuk atau tidak. Selalu ku ikuti peraturan
itu, kalau tidak kecemasanku akan bertambah keesokan hari nya. Dan itu akan
membuatku gila karena memikirkan kesalahan tersebut. Mulai dari memejamkan
mata, merenungkan kejadian hari itu, berfikir dan percaya besok akan lebih
baik. Hingga datang pikiran entah dari mana, apa itu tentang masa kecil,
nasihat orang tua, tawa para sahabat, bahkan terkadang melintas makhluk awan
yang terbang entah pria atau wanita, mereka terlihat sama, sama indahnya saat melayang.
Semua nya yang tampak seperti potongan adegan dalam film bergantian datang
dalam pikiranku tanpa perlu aku kontrol. Ini tahap mendekati kehilangan
kesadaran ku, aku hanya bersiap untuk bangun. Sekalipun jika aku mengalami
mimpi buruk, hal itu akan diketahui saat sudah bangun.
Tapi malam itu, aku dapat
merasakan semua keadaan, bahkan dapat merasakan pikiran serta kecemasanku. Malam
itu aku merasa berhati hati dan bahkan berfikir kalau ini hanya mimpi yang
dapat dirasakan pada saat itu juga, saat itu terjadi. Rasa yang membawa ku pada
suatu tempat, indah dan berwarna. Warnanya, tidak hanya warna cerah, warna yang
bercampur dengan warna gelap, mereka berdampingan. Hal yang aneh. Di dunia yang
aku tahu mereka akan mengelompokkan sesuatu, bahkan warna. Saat kamu memakai
baju, kamu tidak akan memadukan celana berwarna kuning dengan kaos merah
menyala. Atau saat kamu menata ruang, kamu tidak akan menambahkan warna hitam
di dalam ruangan berwarna biru, merah muda atau ungu. Tapi disini mereka
memadukan semuanya. Semua warna berdampingan dan tidak dikelompokkan, semua
warna sama. Semua warna diberlakukan adil. Sangat aneh jika melihat air yang
seharusnya putih bening namun disini tidak, tapi begitu indah dan tidak
berbahaya. Di duniaku saat air berubah warna, itu bisa saja berbahaya atau
lebih lezat dari air yang tidak berwarna.
Apa ini, tidak ada orang, kota
yang tidak berpenghuni. Mimpi dimana aku dapat merasakan hembusan dan suara angin.
Berjalan lebih jauh, bahkan aku dapat merasakan suhu tanah disini, baru menyadari
bahwa tidak ada sandal yang melindungi kakiku, tapi itu tidak membuat warnanya
menjadi hitam ataupun coklat menjijikan, bahkan mereka begitu indah penuh warna.
Ada beberapa warna neon disana, di kakiku, yang membuat itu seperti bercahaya. Di
dunia ku saat tidak memakai alas kaki, itu akan membuat kaki mu menjadi menjijikan
atau lebih parahnya lagi akan ada cacing yang menembus pori-pori mu dan
membuatnya lebih menjijikan lagi bahkan berbau busuk. Ku rasa itu tidak berlaku
disini.
Seseorang memanggilku, tidak, itu
bukan seorang, tapi lebih dari satu orang, mengapa suara mereka terdengar
serupa? Di duniaku setiap orang memiliki suara yag berbeda. Aku dapat
membedakan siapa yang memanggilku, apakah ibu atau ayah. Tapi disini aneh,
semua suara mereka terdengar merdu, kamu tidak dapat menebak pemilik suara kecuali
dengan melihatnya sendiri. Saat aku menengok ternyata ada 7 makhluk yang berdiri disana. Entahlah, begitu
indah tapi aku tidak dapat menyimpulkan jenis apa mereka. Terlihat seperti
manusia dengan warna yang begitu banyak ditubuhnya dan dibalut dengan pakaian
berwarna. Ah mungkin karena air disini memiliki banyak warna. Mereka berdiri
disana dengan rambut bak pelangi. Aneh mengapa mereka menyukai warna yang
banyak seperti itu. Berbeda sekali denganku, rambut hitam, piyama panda lucu
yang senada. Hanya saja kakiku sama dengan yang mereka punya, tapi lebih pekat.
Mungkin karena sudah bertahun tahun berjalan. Dari hasil analisis cepat sesaat,
dapat aku simpulkan entah mereka pria atau wanita, begitu indah, jantan,
anggun. Dapat ku tebak bahwa mereka berumur lebih tua, jauh lebih tua dariku, walaupun
penampakan mereka jauh lebih muda.
Ketujuh makhluk indah tersebut
selalu membawa benda kecil seperti bola seukuran genggaman, tapi benda tersebut
memiliki telinga melingkar menempel pada bagian sisinya. Begitu ramah, anehnya
aku yang tidak mengenal mereka dapat dengan cepat bermain bersama tanpa
kekhawatiran. Mereka pun pasti sudah tau bahwa aku orang yang baru dari negeri
lain. Mereka menatap dengan penuh hangat, oh matanya berbinar. Jika lebih dalam
kamu menatap mata mereka, ada rasi disana. Entahlah, hanya saja bintang-bintang
di kedalaman mata itu terlihat berpola, seperti buku panduan pada buku gambar
anak tk. Hanya dengan melihat, terasa seperti mereka sedang berbicara. Bahkan
saat mereka berbicara terasa hangat, sehangat pelukan ibuku saat aku ketakutan
tanpa sebab.
Mereka mengatakan bahwa di dunia
ini tidak ada satupun yang memiliki nama. Bahkan aku dipinta untuk menghapus
namaku sendiri. Terasa aneh, tapi dengan kesediaan sudah kuhapus namaku dan
mengikuti aturan itu, bagaimana cara memanggil salah satu dari mereka yang
bahkan memiliki suara yang sama?.
Mereka memperkenalkan banyak
makhluk lain, memperlihatkan beberapa permainan yang biasa dilakukan. Kami
bersama, namun rasanya hampa. Mereka akrab dan dekat, tapi terasa asing.
Mungkin karena kami belum mengetahui nama satu sama lain. Mereka bermain, aku
pun tersenyum melihatnya, tapi tidak merasakan kesenangan. Setiap melihat
senyuman makhluk indah itu, perut ku terasa tergelitik seperti hal nya saat mendapatkan
baju baru menjelang lebaran, tapi ini berbeda kesenangan yang berbeda. Suatu
hal yang membuatku tersenyum tapi tidak begitu merasa senang. Terkadang dimainkan
bola dalam genggam mereka. Benda itu melakukan banyak hal, dapat mengeluarkan
suara, menggelinding, berputar putar seperti mobil-mobilan yang dijalankan
dengan remote control. Hanya mereka
yang memiliki bola tersebut di dunia tanpa nama ini. Hal itu membuat ketujuh teman
baruku berbeda dengan makhluk indah lainya. Benar, mereka teman yang dapat dirasakan
dalam mimpi, terlihat lebih bersinar dari yang lainnya, bahkan sebuah senyuman
terlihat jauh lebih indah.
Mereka memiliki waktu, dan selalu
bilang, waktu nya.. waktu nya.. waktunya.. seperti hal nya seorang pekerja yang
disiplin dan selalu memeriksa jam tangan. Tapi aku tidak merasakan waktu telah
berlalu. Di dunia ini hanya aku yang tidak memiliki waktu, tentu saja aku
sedang berkunjung di dunia mereka. Bagaimana bisa mengetahui waktu yang ku
tinggal sesaat sebelum tidur. Kalau ini bukan mimpi aku berharap memakai jam
tangan saat tertidur.
Benda itu, mata itu, senyuman itu,
suara hangat itu membuat ku berkeinginan untuk mengikuti mereka. Bahkan saat
mereka berjalan sambil melompat riang, aku pun mengikutinya. Entah sudah berapa
lama aku mengkuti mereka di dunia ini, aku bahkan tidak ingat dunia asalku. Terlebih
lagi ketertarikan akan 7 makhluk indah ini, yang selalu mengajakku berbicara
dengan suara hangatnya. Kau tau, mereka selalu berjalan lurus di dunia ini. Tidak
ada jalur membelok apa lagi persimpangan seperti yang selalu aku temui saat
hendak berangkat sekolah dengan lampu merah yang menjadi pelengkap sebab
keterlambatannku setiap pagi, selain macet dan mengantri untuk mandi dengan
saudara-saudaraku.
Disepanjang jalur lurus
tersebut,di dunia baru nan indah ini mereka selalu menuntunku, terkadang kami
berhenti unuk memakan beberapa buah lezat. Aku dapat merasakan dengan jelas
rasa buahnya, rasa di dalam mimpiku. Entah kemana mereka membawa ku pergi,
sambil berbincang, bermain aku dibawa berjalan lurus semakin menjauhi dunia
asalku, sesekali mereka menyapa para penduduk yang sedang duduk di teras nya
masing-masing. Bahkan lama-kelamaan aku pun ikut-ikutan terlihat akrab dengan
makluk lain yang mereka sapa. Aku ikut-ikutan menyapa yang lainnya dan membuat
ketujuh makluk itu tersenyum. Tepat berada dibelakang mereka aku pun mengikuti
mereka tanpa perduli waktu ku,tujuan mereka membawaku, bahkan aku melupakan
dunia asalku.
Merdu sekali lantunan nada yang selalu
mereka kumandangkan. Terkadang mereka terdengar menggombal, tapi itu bukan
gombalan, seperti wejangan yang begitu tulus. Semakin menuju kedalam semakin
indah terasa. Bahkan ketujuh makhluk tersebut semakin mempesona. Entah apa yang
mereka senandungkan tapi aku begitu menikmati semua nada yang keluar dari mulut
mereka, terkadang mereka menjelaskan maksud senandungnya. Makna dibalik semua
nada yang dikeluarkan. Aku semakin kagum dengan makhluk indah yang bahkan
sampai saat ini tidak ku ketahui namanya dan bahkan tidak mengetahui kemana
mereka akan membawaku.
Saat kamu melakukan suatu
kesalahan, pasti ada gejolak dalam dirimu. Itu terjadi pada ku. Saat berada
pada pemberhentian ke-99 kami. Entahlah, aku hanya dapat menghitung berapa kali
kami berhenti. Tidak adanya jam sebagai penanda waktu sedikit membuatku risau.
Apakah waktu ku untuk mandi atau untuk melakukan hal lain, aku tidak tau. Yang
ku tau sekarang kami berada di pemberhentian ke-99. Tiba-tiba saja aku ingat
dunia asalku. Baru sadar entah sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan bersama
mereka. Tidak ada perubahan pada langit disini. Awannya selalu sama, menggumpal
ceria. Langitnya selalu sama, cerah dan bersih.
Gejolak itu semakin besar. Sama
hal nya saat perutku terasa terjepit kalau sedang mengendap endap untuk melihat
isi pesan singkat di handphone kakak tertuaku. Seseorang sedang mengetuk pintu
hati dan sedang ingin memperlihatkan kesalahanku. Sesuatu yang ada di dalam
diri yang meminta untuk kembali mengingat dunia asalku. Aku semakin takut akan
dunia baru ini, bahkan semakin gelisah melangkah bersama mereka.
Aku bertanya, kemana mereka akan
membawaku. Mereka bilang akan membawaku ke dunianya yang penuh dengan kotak
ajaib, dunia yang banyak toko magic disana, dan akan membelikan baju baru
untukku, seperti yang mereka punya. Baju yang akan membuatku seutuhnya sama
seperti mereka.
Bukankah sedari tadi aku sudah
berada di dunia mereka? Apakah di ujung jalan ini aku akan menemukan tempat
baru? Dunia dengan jam dinding besar pada salah satu bangunannya, seperti big
bang yang ku lihat pada sampul buku ips?
Dalam mimpi itu, aku bahkan
memiliki memori dan kecemasan. Aku masih muda, bahkan belum lulus dari bangku Sekolah
Menegah Atas. Tapi sudah punya beberapa impian, seperti keinginan gila untuk mendapatkan
banyak uang dan membuat orang tua ku bangga. Keinginan yang terkadang aku pun
malu memilikinya, seperti orang yang sudah dewasa saja. Bagaimana pemikiran itu
dapat muncul pada anak yang hanya memikirkan cara bermain di lapangan belakang
atau hanya memikirkan cara memenangkan permainan gobak sodor bersama teman
seusianya. Terkadang, keinginan itu membuat aku lebih berkelakuan baik. Entah
lebih rajin belajar, atau meyapu halaman, walaupun tidak ada kaitannya menyapu
halaman dengan mendapatkan uang. Orang dewasa selalu bilang belajar akan
membuatmu kaya, bahkan aku tidak mengerti maksudnya dan tidak begitu tau
hubungan belajar dengan kaya. Tapi aku hanya mempercayai apa yang mereka katakan.
Memori akan keinginan itu muncul
saat aku sedang bermimpi, saat aku sedang ada di dunia baru, saat aku
mendapatkan kesenangan lain dari makhluk indah ini. Keinginan yang selalu
mendorongku untuk bersikap baik. Aku mulai gelisah karena aku hanya berjalan
dan mengikuti mereka.
Ketukan di dalam hatiku semakin
terasa. Sudah berapa lama aku tidak sembahyang di dunia ini. Tapi tidak ada
waktu disini, mungkin waktu sembahyang pun tidak ada. Di dunia asalku, kami
hidup untuk menyembah tuhan dan memiliki waku untuk sembahyang. Awalnya, waktu
ditandai dengan pergerakan matahari. Tapi karena kecanggihan teknologi. Entah
mulai dari abad berapa waktu sembahyang bisa dilihat pada jam tangan. Tapi disini,
matahari pun tidak bergerak, jam pun tidak ada. Aku mulai risau. Risau
memikirkan keinginan dewasa ku untuk membahagiakan orang tua yang harus dipenuhi
dengan belajar, atau risau karena kebiasaan sembahyangku dan semuanya tidak aku
lakukan disini. Aku yang terbiasa dipanggil dengan nama yang didapat pada hari
ke-7 setelah kelahiran. Nama yang begitu aku sukai. Tapi disini, mereka tidak pernah
memanggilku bahkan tidak ingin mengetahui nama ku.
Aku mulai meminta mereka untuk
menunjukkan jalan menuju asalku. Mereka menengok, langsung saja bersedih
mendengarnya. “Apa kami sudah tidak indah lagi bagimu?” Kata salah satu yang
paling pendek disana. “Apakah senandung kami sudah mulai membosankan?” Entahlah
namanya siapa, susah untuk dijelaskan, kata makhluk lainnya. Dia berbadan 1 cm
lebih tinggi dari makhluk pertama yang bertanya.
“Tidak” aku jawab dengan segera. “Hanya
saja, aku teringat rumah”.
“Pulang? Tidak bisakah kamu
mengikuti kami saja? Tetap didunia ini, kamu bersenang-senang dengan kami. Kami
aka bermain lebih seru lagi dari sebelumnya”.
Aneh, begitu takutnya mereka saat
aku pinta ditunjukkan jalan menuju dunia asalku, untuk diantar pulang. Padahal
aku puntidak berguna disini. Sebenarnya gejolak dihatiku semakin memanas. Tapi
bersamaan dengan itu, entah datang darimana keingininan untuk tetap disini
saja. Itu bisa dimaklumi, dunia ini lebih nyaman sebagai tempat tinggal. Tempat
dimana kamu tidak perlu khawatir akan waktu ataupun keinginanmu yang terkadang
membuat risau dan gelisah. Bahkan aku bersenang senang disini, bersama mereka
yang hanya berjalan lurus.
Aku yang semakin terobsesi dengan
keberadaan makhluk indah itu, mengajak mereka untuk menuju jalanku. Megundangnya
masuk keduniaku, tapi mereka engan. Benar, mana ada yang mau menukarkan tempat
tinggal seindah dan senyaman ini dengan dunia yang penuh aturan dan batasan. Di
dunia asalku, tidak hanya aturan tertulis yang kami punya seperti aturan
sekolah untuk memakai seragam atau perjanjian hukuman saat kamu terlambat.
Disana banyak batasan, yang membuat seseorang akan lebih waspada dalam
melakukan sesuatu. Entah batasan karena khawatir akan pikiran orang lain atau
batasan yang kamu buat sendiri. Seperti saat takut memakai baju warna warni karena
akan ada yang bilang tidak cocok, kamu dibatasi oleh pendapat mereka. Atau muncul
keinginan untuk makan semua lauk udang bakar yang tersedia di meja makan, tapi aku
hanya akan makan beberapa potong karena rasa ingin berbagi dengan beberapa
saudara kandungku. Aku juga sering terbatasi karena hal hal yang disebut norma,
kasih sayang atau rasa ingin berbagi dalam diri. Mana mau makhluk dari dunia yang tidak
memiliki batasan untuk tinggal di dunia ku, dunia yang penuh dengan batasan.
Aku memutuskan untuk tetap
berjalan di dunia ini. Semua kenangan yang muncul dalam mimpiku terkalahkan
dengan obsesi terhadap mereka. Dan tentu saja kenangan itu kalah dengan
keinginan untuk keluar dari batasan.
Tetap menghitung pemberhentian,
aku senang dan menikmati momen ini tapi terkadang memori akan tempat asalku
muncul bersamaan dengan obsesi terhadap mereka yang semakin membesar pula, yang
menghantarkan kami pada pemberentian ke-6666. Pada pemberhentian kali, ingin
rasanya mengubah haluan. Aku tidak ingin berjalan bersama mereka lagi, tidak
ingin berjalan lurus lagi. Keinginan untuk pulang muncul lagi. Kali ini, obsesi
terhadap mereka kalah akan rasa yang ada di dalam hati kecilku. Entah apa,
bukan sebuah memori atau keinginan duniawi, seperti menjadi kaya bahkan bukan rasa
rindu akan rumah. Sesuatu yang muncul pada pemberhentian ini lebih besar. Rasa yang
benar benar tertanam bersamaku. Sebuah rasa yang tumbuh dalam hati. Aku tidak
bisa mengatakan rasa Ketuhanan yang ada dalam diri. Hanya saja rasa itu
menghancurkan obsesi ku akan makhluk indah tersebut.
Aku mulai berjalan berbalik arah.
Aku melawan rasa obsesi ku akan kebahagiaan yang mereka tawarkan. Meninggalkan
mereka yang begitu indah, yang memberikan senandung disepanjang perjalanan kami,
perjalanan tanpa akhir. Sekarang aku memutuskan untuk meninggal kan mereka.
Berjalan ke arah yang berlawanan menuju dunia baru dan berharap akan menuntun
ke dunia asalku. Mereka tidak melanjutkan perjalanan dan hanya menatapku. Sesekali
aku menengok kearah mahkluk tersebut,
mereka masih disana. Aku terus berjalan sendiri dengan segala kerisauan,
kecemasan dan harapan untuk kembali ke rumah. Aku terus menengok sesekali sampai
akhirnya mereka tidak terlihat oleh ku. Mereka berada di ujung cakrawala.
Penglihatan manusia terbatas, mungkin karena itu mereka tidak terlihat walaupun
tetap berada disana. Mungkin karena bumi bulat, dan mereka tidak akan terlihat
jika kami sudah berada di lengkungan yang berbeda. Aku terus berjalan, tidak
menyisakan jejak. Tapi dunia ini menyisakan warna yang tertinggal di kakiku. Bahkan
nada mereka selalu ternyiang. Ah bodoh, kenapa dengan diriku. Rasa obsesi itu
masih membekas di hatiku.
END
Komentar
Posting Komentar